Rai Gedeg: Ketika Rasa Malu Mulai Menghilang di Tengah Masyarakat

photo author
Tim HMcom01, Harian Merapi
- Jumat, 17 April 2026 | 20:17 WIB
Ilustrasi rai gedeg (Gemini AI)
Ilustrasi rai gedeg (Gemini AI)

Namun, dalam perkembangan zaman terutama di era keterbukaan informasi dan media sosial terjadi pergeseran nilai. Apa yang dulu dianggap memalukan, kini sering kali justru ditoleransi, bahkan dalam beberapa kasus, dianggap biasa.

Ambil contoh di lingkungan tempat tinggal. Tidak jarang ada seseorang yang dikenal sering meminjam uang dari tetangga. Awalnya satu dua orang membantu. Namun lama-kelamaan, semakin banyak yang merasa dirugikan. Meskipun demikian, orang tersebut tetap menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa, ikut kegiatan warga, bercanda, bahkan tampil percaya diri di hadapan orang-orang yang pernah dirugikannya.

Hal serupa juga dapat ditemui di lingkungan kerja. Ada individu yang gemar membangun citra diri seolah memiliki banyak koneksi atau kemampuan khusus. Ia sering menjanjikan bantuan atau peluang tertentu, tetapi tidak pernah benar-benar terealisasi. Meski demikian, ia tetap mempertahankan cerita yang sama, tanpa merasa perlu mengoreksi dirinya.

Dalam konteks lain, fenomena ini juga terlihat dalam interaksi di media sosial. Seseorang bisa dengan mudah menampilkan kehidupan yang tampak mewah dan sukses, meskipun kondisi sebenarnya tidak demikian. Foto-foto liburan, barang-barang bermerek, hingga aktivitas yang terkesan eksklusif menjadi bagian dari narasi yang dibangun.

Padahal, tidak jarang realitas di balik layar jauh berbeda. Bahkan, dalam beberapa kasus, gaya hidup tersebut justru ditopang oleh utang atau pengorbanan finansial yang tidak sehat.

Jika ditelaah lebih dalam, rai gedeg bukan hanya soal perilaku individu, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan sosial yang membentuknya. Ketika suatu perilaku tidak mendapatkan teguran atau konsekuensi sosial yang jelas, maka lama-kelamaan perilaku tersebut akan dianggap normal.

Misalnya, ketika seseorang yang tidak mengembalikan pinjaman tetap diterima dalam pergaulan tanpa ada pembicaraan terbuka atau batasan yang jelas, maka ia tidak memiliki dorongan untuk berubah. Bahkan, bisa jadi ia merasa bahwa apa yang dilakukannya bukanlah masalah besar.

Di sisi lain, masyarakat sering kali berada dalam posisi yang sulit. Ada keengganan untuk menegur secara langsung karena khawatir merusak hubungan. Ada pula rasa tidak enak hati yang justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.

Akibatnya, terbentuklah lingkaran yang tidak sehat di mana perilaku yang seharusnya dikoreksi justru dibiarkan, dan pada akhirnya berkembang.
Penting untuk disadari bahwa rasa malu bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan. Dalam batas yang wajar, rasa malu justru merupakan bagian dari kecerdasan sosial. Ia membantu seseorang untuk memahami situasi, menjaga sikap, dan menghormati orang lain.

Rasa malu juga berkaitan erat dengan integritas. Seseorang yang memiliki integritas akan merasa tidak nyaman ketika melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakininya. Ketidaknyamanan inilah yang mendorong perubahan dan perbaikan diri.

Sebaliknya, ketika rasa malu mulai hilang, seseorang bisa kehilangan arah. Tidak ada lagi batas yang jelas antara benar dan salah dalam praktik sehari-hari. Yang ada hanyalah kepentingan pribadi dan upaya untuk mempertahankan citra.

Meski demikian, penting juga untuk melihat fenomena ini secara bijak. Tidak semua orang yang mengalami kesulitan finansial atau pernah berutang dapat langsung dikategorikan sebagai rai gedeg. Ada banyak orang yang memang sedang berada dalam kondisi sulit, namun tetap berusaha bertanggung jawab dan menjaga kepercayaan.

Perbedaan utamanya terletak pada sikap. Orang yang masih memiliki kesadaran akan tanggung jawab biasanya akan berusaha memberikan kepastian, berkomunikasi dengan jujur, dan menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan kewajibannya.

Sebaliknya, dalam perilaku rai gedeg, yang terlihat adalah pengabaian terhadap tanggung jawab tersebut, disertai dengan upaya untuk menutupi atau mengalihkan perhatian melalui pencitraan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dihadapkan pada pilihan: bagaimana bersikap ketika berhadapan dengan fenomena ini. Apakah kita akan terus mentoleransi, atau mulai membangun batasan yang sehat?
Membangun batasan bukan berarti memutus hubungan, tetapi lebih kepada menjaga keseimbangan. Misalnya, lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman, atau berani menyampaikan keberatan secara baik-baik ketika merasa dirugikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Zaman Edan, dan Ruh yang Mencari Jalan Pulang

Rabu, 15 April 2026 | 16:10 WIB

Relaksasi dan Kompetensi WPOP di Era Coretax

Rabu, 15 April 2026 | 16:00 WIB

Guyub-Rukun demi Kedamaian

Senin, 13 April 2026 | 13:00 WIB

Sunatullah Tubuh yang Menua: Tafsir Filosofis

Sabtu, 21 Maret 2026 | 08:45 WIB

Lebaran: Obat Kesepian Manusia Modern

Kamis, 19 Maret 2026 | 12:50 WIB

Korupsi Berkedok Idulfitri

Rabu, 18 Maret 2026 | 10:11 WIB

Puasa Sebagai Investasi Spiritual

Senin, 16 Februari 2026 | 10:00 WIB

Hukum Untuk Mewujudkan Kedamaian

Senin, 5 Januari 2026 | 10:00 WIB

Peran Strategis Ibu dalam Pendidikan Anak

Senin, 22 Desember 2025 | 09:31 WIB

FWK Membisikkan Kebangsaan dari Diskusi-diskusi Kecil

Jumat, 31 Oktober 2025 | 10:30 WIB
X