HARIAN MERAPI - Di bawah langit budaya yang teduh di Pendhapa Manggala Parasamya, denyut tradisi kembali hidup melalui Festival Langen Carita Kabupaten Bantul 2026.
Bukan sekadar perlombaan, panggung ini menjelma ruang tumbuh bagi generasi muda untuk merawat warisan leluhur dengan menganyam tembang, tari dan iringan gamelan dalam satu napas yang utuh.
Dinas Kebudayaan Bantul menghadirkan festival ini sebagai bagian dari upaya menjaga identitas daerah sekaligus membentuk karakter anak-anak sejak dini.
Baca Juga: Mobil Pick Up Penjual Tahu Bulat Terbakar di Umbulharjo, Kerugian Capai Rp50 Juta
Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Yanatun Yunadiana, menegaskan bahwa Langen Carita bukan hanya seni pertunjukan tetapi juga media pendidikan nilai sekaligus tentang kedisiplinan, kerja sama hingga rasa cinta terhadap budaya sendiri.
Tahun ini, format peserta menghadirkan nuansa baru.
Enam kontingen tampil bukan lagi sebagai wakil kapanewon tunggal, melainkan gabungan wilayah berbasis eks Tuti Barat, Tengah dan Timur yang masing-masing mengirim dua kontingen.
Kolaborasi ini menghadirkan warna pertunjukan yang lebih kaya, sekaligus memperkuat solidaritas lintas wilayah.
Setiap kontingen, yang terdiri dari 25 anak usia sekolah dasar, tampil penuh totalitas.
Mereka telah melewati proses seleksi ketat dan pembinaan intensif oleh tim kreatif.
Di balik setiap gerak tari dan lantunan tembang, tersimpan kerja keras panjang yang tak terlihat oleh penonton.
Baca Juga: Tangkap Dua Pengedar, Polres Sukoharjo Amankan Sabu Hampir 1 Kilogram di Kartasura
Sorotan utama festival tahun ini jatuh pada Tuti Barat Selatan gabungan wilayah Sanden, Srandakan dan Pandak yang tampil memukau dan keluar sebagai Juara I dengan total nilai 1736.