HARIAN MERAPI - SMP Negeri 2 Kalasan menyelenggarakan kegiatan pembinaan keimanan bagi orang tua dan siswa, Sabtu (10/1/2026). Kegiatan ini digelar sebagai upaya penguatan karakter spiritual lintas agama di lingkungan sekolah.
Bagi warga sekolah beragama Islam, kegiatan diisi dengan pengajian di Masjid Al Huda SMP Negeri 2 Kalasan. Sementara itu, siswa, guru, dan orang tua Kristiani mengikuti perayaan Natal bersama di ruang terpisah di Gedung SMP Negeri 2 Kalasan.
Pengajian menghadirkan penceramah Ustadz Prof. Dr. Ir. Sukamta, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., Guru Besar Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang menyampaikan tausiyah bertema Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Kepala SMP Negeri 2 Kalasan, Hadi Suparmo, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan pembinaan keimanan ini merupakan inisiasi Paguyuban Orang Tua (POT) dan rutin diselenggarakan setiap bulan secara bergilir oleh POT kelas VII, VIII, dan IX.
“Kegiatan hari ini diselenggarakan oleh POT Kelas VII. Ini adalah bagian dari implementasi 8 Dimensi Profil Lulusan, khususnya dimensi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Hadi Suparmo.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat karakter peserta didik, baik secara akademik maupun spiritual.
“Semoga anak-anak semakin beriman, berbakti kepada orang tua, mandiri, memiliki nalar kritis, mampu bekerja sama, serta menjadi pribadi yang bisa membedakan mana yang baik dan buruk,” tambahnya.
Dalam tausiyahnya, Prof. Sukamta menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan bentuk penghiburan Allah kepada Rasulullah SAW di tengah masa penuh ujian yang dikenal sebagai Tahun Kesedihan. Ia menguraikan tiga peristiwa berat yang dialami Nabi Muhammad SAW, yakni wafatnya Abu Thalib sebagai pelindung utama Nabi, wafatnya istri tercinta Khadijah, serta penolakan dan perlakuan kejam yang diterima Nabi saat meminta bantuan saudaranya dari Bani (keturunan) Hasyim di Thaif.
“Dari peristiwa itu kita belajar tentang kesabaran. Kunci kesuksesan adalah sabar, doa, dan usaha. Bersedih boleh, tetapi jangan sampai larut dan kehilangan harapan kepada Allah,” tutur Prof. Sukamta di hadapan para orang tua dan siswa.
Ia menegaskan bahwa kebenaran pada akhirnya akan mengalahkan kejahatan.
“Mungkin di awal kejahatan terlihat menang, tetapi pada akhirnya kebenaranlah yang akan berjaya,” katanya.
Prof. Sukamta juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak, terutama dalam membimbing ibadah dan kedisiplinan. Ia menekankan agar orang tua membiasakan anak menjalankan shalat lima waktu serta lebih bijak dalam mengawasi penggunaan telepon genggam (HP) di era digital.
“Pelajaran terpenting dari Isra Mi’raj adalah shalat. Shalat adalah hadiah terbesar dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Bukan harta, bukan kesehatan dan kekuasaan dunia, melainkan shalat, karena itulah jalan pulang menuju Allah,” ujarnya.
Menurutnya, shalat memiliki kedudukan tertinggi dalam kehidupan seorang Muslim.
“Biasanya orang-orang yang sukses adalah mereka yang menjaga shalatnya. Siapa yang memperhatikan Allah, maka Allah akan memperhatikan hamba-Nya,” pungkas Prof. Sukamta.