Ketua Umum PP Muhammadiyah: Kehidupan berbangsa dan bernegara memerlukan arah, peta jalan dan nilai yang jelas

photo author
Sulistyanto, Harian Merapi
- Sabtu, 18 April 2026 | 07:00 WIB
Prof Haedar saat Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar UMY, Ridho Al-Hamdi.  (Dok. UMY)
Prof Haedar saat Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar UMY, Ridho Al-Hamdi. (Dok. UMY)

HARIAN MERAPI - Setiap peristiwa dan persoalan pada dasarnya memiliki kebenaran intrinsik. Namun, kebenaran tersebut tak selalu dapat dijelaskan secara komprehensif oleh teori yang ada.

Ilmu pengetahuan pun sering kali belum mampu memahami, bahkan gagal menjelaskan realitas secara konstruktif sebagaimana adanya, karena adanya jarak antara teori dan realitas.

Demikian diungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir MSi saat Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Ridho Al-Hamdi, Kamis (16/4/2026), di Gedung AR Fachruddin B Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Baca Juga: Oknum Satpol PP Diduga Mencuri, Bupati Gunungkudul Janji Tak Tolerir Pelanggaran

Selain itu, Prof Haedar menjelaskan, dalam kajian ilmu politik terdapat beragam pendekatan, seperti sistem politik, budaya politik, dan perilaku politik.

“Namun, jika pendekatan-pendekatan tersebut tidak dikembangkan secara integratif, maka pemahaman terhadap fenomena politik akan tetap parsial,” paparnya.

Sehingga pendekatan yang lebih mendalam, lanjut Prof Haedar, menjadi penting agar ilmuwan mampu memahami realitas dalam konteksnya. Jadi, ilmu tak hanya berhenti pada kerangka teoretis, tetapi juga mampu menjelaskan kondisi nyata di masyarakat.

“Jika tak berjalan secara integratif, kita akan tetap parsial dalam melihat fenomena politik. Dalam sistem terdapat aktor, struktur, nilai dan budaya yang saling berkaitan,” jelasnya.

Baca Juga: Eksekusi rumah di Sorosutan mendadak tertunda, GeBUKK klaim perjuangan berbuah hasil

Karena itu, semakin mendalami realitas, pendekatannya juga harus semakin mendalam. Lalu, terkait perbedaan karakter pendekatan ilmu politik di Barat, ia menyontohkan pendekatan di Amerika Serikat.

Yakni, cenderung kuat pada aspek metodologi dan pragmatisme, sedangkan di Eropa lebih menekankan dimensi filsafat dan epistemologi.

Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan agar akademisi tidak serta-merta mengadopsi teori dari luar tanpa mempertimbangkan konteks lokal. Pemahaman terhadap realitas sosial dan budaya sendiri menjadi kunci agar ilmu yang dikembangkan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: 'Silaturahmi' Lewat Jendela, Guru Gasak Rp75 Juta Milik Keluarga di Temanggung

“Kita tak bisa serta-merta mengambil teori dari Amerika atau Eropa untuk diterapkan begitu saja. Kita harus memahami realitas kita sendiri. Jika tidak, kita hanya akan terjebak dalam ‘menara gading’ dengan teori yang tak selalu sesuai dengan kondisi masyarakat,” tegasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Husein Effendi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X