HARIAN MERAPI - Sebagian siswa suatu sekolah ataupun madrasah senang mempelajari beberapa tarian tradisional. Apalagi tarian tradisional termasuk Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Contoh tarian sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, yakni Tari Zapin maupun Ratoh Jaroe. Sebagian sekolah/madrasah yang ada di DIY pun mempelajari kedua tarian tersebut, misalnya di kegiatan ekskul.
Seperti halnya di SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta, beberapa siswa/siswi berminat mempelajari Tari Zapin. Tarian ini biasa ditampilkan untuk menyemarakan kegiatan penting.
Menurut salah satu guru di sekolah setempat, Supraptiningsih SPd, jenis tari klasik/tradisional dan kreasi baru yang dipelajari dan sering ditampilkan siswa SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta cukup beragam.
Baca Juga: Inilah peran Indonesia dalam konflik AS-Iran, begini penjelasan Menko Polkam
Antara lain ada Tari Zapin, Caping Ayu hingga Tari Kepyar. Tarian tersebut biasa ditampilkan saat Akhirussanah dan Penyerahan Siswa Kelas IX maupun acara-acara penting yang diprakarsai sekolah setempat.
“Sebagian siswa kami, bahkan sudah mempelajari tari-tarian termasuk Tari Zapin sejak di SD. Sehingga, kadang ada kelompok yang cukup mempelajari lewat YouTube ditunggui guru, tak berselang lama bisa ditampilkan,” jelasnya.
Kelompok tari yang mengisi selingan/hiburan kegiatan sekolah maupun ikut lomba, sebutnya, bisa siswa Kelas VII hingga IX. Selain seni tari, biasa juga ada seni angklung, baca puisi, tapak suci hingga vokal.
Bahkan, ketika Akhirussanah dan Penyerahan Siswa Kelas IX, ada siswa Kelas IX masih menyumbangkan seni seperti vokal, tari dan angklung. Pada awal acara, segenap siswa Kelas IX pun mengikuti kirab.
Ditambahkan, khususnya Tari Zapin merupakan tarian tradisional Melayu yang berasal dari Riau dan Kepulauan Riau. Konon, tarian ini diperkenalkan oleh pedagang Arab yang berdagang sampai Indonesia.
Jadi merupakan tarian hasil akulturasi budaya Melayu dan Arab. Sebelum menyebar ke berbagai daerah, Tari Zapin sebagai hiburan di Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura, Riau.
Sementara itu, Intan Lathifa dan Naurah Athaya mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) biasa melatih Tari Ratoh Jaroe di Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta.
Pasalnya, sebagian siswi dari madrasah setempat berminat mempelajari Tari Ratoh Jaroe, misalnya untuk hiburan/selingan saat ada acara- acara penting maupun untuk ikut lomba.
Baca Juga: Mobil Suzuki Vitara terbakar di Jalan Kaliurang, begini kronologinya