• Selasa, 19 Oktober 2021

Rumah Peneliti Wanagama UGM Kembali Dijadikan Selter Isolasi Pasien Covid-19 Bergejala Ringan

- Sabtu, 31 Juli 2021 | 19:05 WIB
Rumah peneliti Wanagama UG dijadikan selter isolasi pasien Covid-19. Foto: Dokumen UGM (Rumah peneliti Wanagama UG dijadikan selter isolasi pasien Covid-19. Foto: Dokumen UGM)
Rumah peneliti Wanagama UG dijadikan selter isolasi pasien Covid-19. Foto: Dokumen UGM (Rumah peneliti Wanagama UG dijadikan selter isolasi pasien Covid-19. Foto: Dokumen UGM)

GUNUNGKIDUL, harianmerapi.com - Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menambah fasilitas selter penanganan Covid-19 yang diperuntukkan bagi pasien konfirmasi bergejala ringan.

Rumah peneliti Wanagama UGM memiliki kapasitas sebanyak 51 tempat tidur. Selain kamar isolasi, terdapat kopel khusus IGD yang dilengkapi dengan konsentrator oksigen, serta ruangan khusus bagi tenaga kesehatan.

Selter mulai difungsikan dengan ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama antara Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dan Fakultas Kehutanan UGM, Jumat (30/7/2021).

“Ini kedua kalinya Wanagama digunakan sebagai selter. Sebelumnya untuk warga yang reaktif rapid test, saat ini yang ditempatkan adalah yang sudah betul-betul positif,” ujar Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Budiadi.

Baca Juga: Fakultas Teknologi Pertanian UGM Kenalkan MOOCs Uji Sensoris, Platform Pendidikan yang Bisa Diakses Siapa Saja

Dia berharap pemanfaatan rumah peneliti Wanagama sebagai selter dapat mendukung upaya pemerintah daerah dalam menangani pasien dan menekan angka kematian Covid-19. “Di sini isolasi bisa maksimal karena tidak berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan lingkungannya lebih sehat. Mudah-mudahan jika diisolasi di sini lebih cepat sembuh karena kondisinya mendukung,” jelasnya.

Bupati Gunungkidul, Sunaryanta menyebut selter Wanagama menjadi satu selter isolasi yang dikelola oleh pemerintah kabupaten. Keberadaan selter terpadu, menurutnya, menjadi penting mengingat jumlah kasus di Kabupaten Gunungkidul masih cukup tinggi.

“Kerja sama ini sangat penting bagi kami. Meski beberapa hari ini menurun, namun jumlah yang isoman masih cukup tinggi, sekitar 2500 orang,” ujarnya.

Dengan berada di selter terpadu, kondisi pasien yang melakukan isolasi mandiri dapat terpantau dan lebih cepat mendapat penanganan. Harapannya tidak ada lagi masyarakat yang meninggal ketika melakukan isolasi mandiri di rumah dan terlambat dibawa ke rumah sakit.

Halaman:

Editor: Sutriono

Tags

Terkini

X