• Kamis, 29 September 2022

Kasus penganiayaan di Timor Tengah Selatan dihentikan, penyelesaian lewat keadilan restoratif

- Rabu, 3 Agustus 2022 | 11:45 WIB
Petugas Kejaksaan Negeri Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi Nusa Tenggara Timur saat melakukan pertemuan dengan para pihak dalam menyelesaikan kasus penganiayaan melalui jalan keadilan restoratif.  (ANTARA/HO-Kejaksaan Tinggi Provinsi Nusa Tenggara Timur)
Petugas Kejaksaan Negeri Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi Nusa Tenggara Timur saat melakukan pertemuan dengan para pihak dalam menyelesaikan kasus penganiayaan melalui jalan keadilan restoratif. (ANTARA/HO-Kejaksaan Tinggi Provinsi Nusa Tenggara Timur)



HARIAN MERAPI - Kasus penganiayaan yang terjadi Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), diselesaikan lewat keadilan restoratif.


Proses penuntutan terhadap tersangka Adrianus Thius pun dihentikan oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Timor Tengah Selatan.


"Kasus tindak pidana penganiayaan ini telah dihentikan proses penuntutannya melalui mekanisme keadilan restoratif, selain itu kedua belah pihak sudah menyatakan kesepakatan damai," kata Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejaksaan Tinggi Provinsi Nusa Tenggara Timur Abdul Hakim di Kupang, Rabu.

Baca Juga: Tri Fajar Firmansyah meninggal, JPW: usut tuntas, jangan ada intervensi proses hukum

Ia menjelaskan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Fadil Zumhana dalam kegiatan ekspose yang dilakukan secara daring menyetujui kasus tindak pidana penganiayaan yang dilakukan tersangka Adrianus Thius terhadap Irvan Alehandro Sipa (15) dihentikan proses penuntutannya berdasarkan keadilan restoratif

Semula tersangka dianggap melanggar Pasal 80 ayat (1) Jo. Pasal 76C Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang Atau Pasal 351 ayat (1) KUHP karena melakukan penganiayaan terhadap Irvan Alehandro Sipa (15).

Abdul Hakim mengatakan beberapa pertimbangan dilakukan penghentian proses penuntutan kasus penganiayaan dilakukan Adrianus Thius karena tersangka baru pertama kali melakukan tindakan pidana serta ada perdamaian antara tersangka dengan korban yang melibatkan orang tua korban.

Baca Juga: Tri Fajar Firmansyah meninggal, JPW: usut tuntas, beri keadilan kepada korban dan keluarganya

Selain itu tindak pidana yang dilakukan hanya diancam dengan pidana denda atau diancam dengan pidana penjara tidak lebih dari lima tahun.

Dia menjelaskan Kepala Kejaksaan Negeri Timor Tengah Selatan segera menerbitkan surat ketetapan penghentian penuntutan (SKP2) berdasarkan keadilan restoratif sebagai bentuk kepastian hukum sesuai Peraturan Jaksa Agung RI nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif.*

Halaman:

Editor: Hudono

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

1.027 orang menari Tari Merak di Gedung Sate Bandung

Minggu, 18 September 2022 | 19:00 WIB
X