• Sabtu, 29 Januari 2022

BMKG Sebut Terjadi Gempa Dangkal di Darat dengan Kedalaman 11 Km di Salatiga

- Kamis, 25 November 2021 | 05:30 WIB
Data pengamatan gempa di beberapa titik yang dikeluarkan BMKG, Kamis, (25/11/2021).  (ANTARA/HO-BMKG)
Data pengamatan gempa di beberapa titik yang dikeluarkan BMKG, Kamis, (25/11/2021). (ANTARA/HO-BMKG)

SALATIGA, harianmerapi.com - Gempa dangkal terjadi di darat dengan kedalaman 11 kilometer di Salatiga, Jawa Tengah, Kamis 25 November 2021 pagi.

Disebutkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) BMKG dalam laman resmi, Kamis, bahwa gempa darat itu memiliki magnitudo 2.8 dengan episenter terletak pada koordinat 7,30 Lintang Selatan dan 110,41 Bujur Timur tepatnya di darat pada jarak 10 kilometer Barat Laut Kota Salatiga.

Wilayah yang merasakan getaran gempa bumi itu meliputi Banyubiru, Ambarawa, Temenggungan, Pojoksari, Brongkol, Kalipawon, Tegalrejo, Jambu, Losari, Gondorio, Semilir, Garung, Bejalen dengan skala intensitas II MMI.

Baca Juga: Horor Meja 103 Laborat Komputer, Ada Mahasiswa Meninggal Tak Wajar

Getaran dapat dirasakan warga dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

Hingga berita ini diturunkan belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut.

Sebelumnya, pada 23-24 Oktober 2021 pukul 10.00 WIB BMKG mencatat telah terjadi 32 kali gempa berkedalaman sangat dangkal (swarm) di wilayah Banyubiru, Ambarawa, Salatiga, Jawa Tengah.

Baca Juga: Balas Dendam Dihina Saudara, Pemuda di Bantul Sabet Sepupu Pakai Bendo

"Jika kita mencermati data parameter gempa yang terjadi di wilayah itu tampak bahwa berdasarkan sebaran temporal magnitudo gempa, maka fenomena tersebut dapat dikategorikan sebagai gempa swarm," papar Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono.

Daryono menjelaskan, gempa swarm dicirikan dengan serangkaian aktivitas gempa bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian yang sangat tinggi, berlangsung dalam waktu "relatif lama" di suatu kawasan, tanpa ada gempa kuat sebagai gempa utama (mainshock).

Umumnya, lanjut dia, penyebab gempa swarm antara lain berkaitan dengan transpor fluida, intrusi magma, atau migrasi magma yang menyebabkan terjadinya deformasi batuan bawah permukaan di zona gunungapi.

Baca Juga: Lelaki Kurang Ajar! Nginap di Kos Teman Wanita, Bawa Kabur Motor dan Handphone

"Gempa swarm memang banyak terjadi karena proses-proses kegunungapian," katanya.

Selain berkaitan dengan kawasan gunung api, Daryono menambahkan, beberapa laporan menunjukkan bahwa aktivitas swarm juga dapat terjadi di kawasan nonvulkanik (aktivitas tektonik murni), meskipun kejadiannya sangat jarang.

"Swarm dapat terjadi di zona sesar aktif atau kawasan dengan karakteristik batuan yang rapuh sehingga mudah terjadi retakan," paparnya. *

 

Editor: Swasto Dayanto

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X