• Selasa, 24 Mei 2022

Polda Sulsel Minta untuk Tunjukkan Bukti-bukti Perkosaan 3 Anak di Luwu Timur, Ini Kata LBH Makassar

- Sabtu, 9 Oktober 2021 | 22:16 WIB
Direktur LBH Makassar, Muhammad Hadir (kiri) Wakil Direkturnya, Aziz Dumpa (kanan) dan Resky Pratiwi (tengah) selaku tim kuasa hukum para anak korban memberikan keterangan saat Konperensi Pers di kantornya, Jalan Nikel Raya, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (9/10/2021) (Foto:ANTARA/Darwin Fatir. )
Direktur LBH Makassar, Muhammad Hadir (kiri) Wakil Direkturnya, Aziz Dumpa (kanan) dan Resky Pratiwi (tengah) selaku tim kuasa hukum para anak korban memberikan keterangan saat Konperensi Pers di kantornya, Jalan Nikel Raya, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (9/10/2021) (Foto:ANTARA/Darwin Fatir. )

MAKASSAR,harianmerapi.com-Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar menyayangkan polisi yang meminta bukti sebagai syarat agar kasus perkosaan 3 bocah di Kabupaten Luwu Timur (Lutim), Sulawesi Selatan, yang penyelidikan dihentikan Polres setempat pada tahun 2019 dibuka lagi.

LBH menjelaskan jika yang berwenang membeberkan bukti adalah polisi, bukannya LBH.
"Kami minta Polri lebih profesional. Satu hal kenapa kami tidak mempercayai Polres Lutim karena menjaga identitas anak saja tidak mampu," ujar Direktur LBH Makassar, Muhammad Haedir saat mengelar konferensi pers di kantornya, Jalan Nikel Raya, Sabtu (9/10/2021).

Bahkan fakta lain, kata dia, saat Polres Lutim mengklarifikasi di media sosial internalnya malah menyebut identitas asli ibu korban.

Baca Juga: Kasus Perkosaan 3 Anak di Luwu Timur, LBH Siap Bantu Polisi Lakukan Penyidikan Jika Kasusnya Dibuka Lagi

Hal ini tentu menjadi preseden buruk dalam hal penanganan perkara anak berhadapan dengan hukum serta dinilai melabrak aturan yang ada.

Tidak hanya itu, beberapa fakta yang disampaikan dan diserahkan kepada Polda Sulsel saat gelar perkara kedua pada Maret 2020 berupa bukti foto para korban yang diabadikan ibunya berinisal SA terdapat kerusakan pada alat seksual pada ketiga anaknya, Namun fakta itu terkesan diabaikan.

Begitu juga pelapor SA sebelumnya telah melakukan pemeriksaan terhadap para anak korban di Puskesmas Malili pada 2019 dan mendapatkan surat rujukan dari dokter lain untuk berobat.

Tertulis, hasil diagnosa bahwa para anak korban mengalami kerusakan pada bagian anus dan vagina serta "child abuse" tidak dinilai.

Baca Juga: Kasus Perkosaan 3 Anak di Luwu Timur Viral, Kementerian PPPA Belum Beberkan Hasil Investigasi

Berkaitan dengan penghentian perkara itu dalam proses penyelidikan melalui penetapan Surat Perintah Pemberhentian Penyidikan (SP3) dikeluarkan penyidik Polres Lutim, pihaknya menilai sangat prematur.

Halaman:

Editor: Herbangun Pangarso Aji

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemerintah Akan Secepatnya Hapus PPKM

Minggu, 22 Mei 2022 | 15:40 WIB

Selamat Jalan Prof. Fahmi Idris

Minggu, 22 Mei 2022 | 14:50 WIB

KPK Ajak Masyarakat Bantu Cari Harun Masiku

Jumat, 20 Mei 2022 | 23:00 WIB

Diberhentikan IDI, Terawan Bergabung ke PDSI

Jumat, 20 Mei 2022 | 18:30 WIB
X