HARIAN MERAPI – Aksi demontrasi tak selamanya harus garang atau saling menghardik. Kejadian tersebut berlangsung saat dilakukan demo yang dilakukan ratusan petani perhutanan sosial ke Dinas Pertanian Pati, Kamis (9/4/2026).
Pendemo (petani) dan pihak yang didemo (Didpertan), malah saling menghafal sejumlah tuntutan demo.
Kejadian langka tersebut, tak lepas kepiawian dari kepala Dipertan Pati, Ratri Wijayanto SSTP Msi dalam mengelola salasatu dari teori menejemen konflik.
Baca Juga: Pelaku Curas Bersenjata Tajam Ditangkap Polisi, Sempat Ancam Korban di Seyegan Sleman
Dari pantauan wartawan, setiba di kantor Dispertan yang berlokasi di Jln P Diponegoro Pati, para pendemo diterima semua unsur pejabat Dipertan. Lalu pendemo disilakan membeber ihwal tuntutan.
Petani mengaku, kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Sejurus kemudian, kepala Dispertan Ratri W langsung membaca puluhan spanduk yang verisi tuntuan pendemo.
Yang pada intinya berisi tuntutan agar pemerintah memberikan kemudahan dalam distribusi pupuk bersubsidi, khususnya bagi petani pengelola lahan perhutanan sosial.
"Tuntutan demo sudah sama-sama kita baca. Nanti, secara bersama juga, kita perjuangkan ke pemerintah" ucap mantan kepala Diskominfo Pati, Ratri W sambil mengumbar senyum dihadapan pendemo.
Baca Juga: CV PTJ Cicil THR, Disnaker Temanggung Buka Posko Pengaduan
Sementara itu, Saman (koordinator aksi), menegaskan masalah pupuk merupakan kebutuhan utama bagi petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Namun, petani masih kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi.
Hal senada juga diungkapkan perwakilan petani desa Pegandan, Selamet. Dia mengungkap keterbatasan pupuk sangat berdampak pada hasil panen petani. *