• Kamis, 1 Desember 2022

Kembang Laruk bagian 34: Sorop, antara dingin dan takut, dan mahluk tak kasat mata yang menertawakan Riski

- Senin, 26 September 2022 | 11:15 WIB
Kembang Laruk, cerita horor karya Simple Man yang tidak kalah ngeri dari KKN di Desa Penari atau Sewu Dino. ( Foto: Twitter @SimpleM81378523)
Kembang Laruk, cerita horor karya Simple Man yang tidak kalah ngeri dari KKN di Desa Penari atau Sewu Dino. ( Foto: Twitter @SimpleM81378523)

HARIAN MERAPI – Inilah cerita horor Kembang Laruk karya Simple Man, penulis kisah viral KKN di Desa Penari, Sewu Dino, dan Janur Ireng.

Kembang Laruk karya Simple Man bercerita tentang petualangan horor sejumlah remaja saat mendaki sebuah gunung di Pulau Jawa.

Cerita horor terbaru karya Simple Man yang berjudul Kembang Laruk ini diunggah lewat sejumlah thread atau utas di akun Twitter @SimpleM81378523.

Baca Juga: Kembang Laruk bagian 25: Nyai bilang Lika punya maksud terselubung, dan keyakinan Riski mulai goyah!

Kembang Laruk bagian 34: Ini seburuk-buruknya perasaan!

Mereka berenam saing memberi botol minum yang tersisa, meminum barang seteguk.

Sebelum wajah mereka, akhirnya melihat waktu sorop, yang akhirnya tiba.

Mendadak, angin dingin berembus pelan, menyapu sekujur badan.

Tapi, anehnya, embusan angin itu justru membuat degup jantung mereka berdetak semakin kencang.

Bagi Riski, sensasi yang ia rasakan, adalah seburuk-buruknya perasaan.

Baca Juga: Kembang Laruk bagian 26: Seratus ari-ari bayi dan rambut Lika untuk tebus Riski dari cengkeraman Nyai

Perasaan yang sama juga dirasakan lima kawan mendakinya yang lain.

Dengan cepat, mereka mengayunkan langkah, lebih tegas dari sebelumnya.

Riski hanya mendengar derap langkah teman-temannya saja.

Sepertinya, semua orang tampak ingin segera sampai ke pos empat.

Riski hanya bisa melihat punggung Koco persis di depannya, Andris dan Puteri di deret paling depan.

Pandangan Riski terus tertuju pada punggung Puteri, Andris, dan Koco.

Baca Juga: Kembang Laruk bagian 27: Setelah tersesat di alam jin selama 2 hari, akhirnya Riski bisa kembali

Ia sama sekali tidak bisa melihat Lika dan Prio di belakang.

Kabut gunung mulai turun, menyelimuti sela-sela pepohonan.

Kali ini, perasaan Riski semakin tidak karu-karuan.

Bercampur aduk antara ketakutan, dibalut dinginnya suasana senja di lereng gunung.

Beberapa kali, Riski seperti melihat ada wajah-wajah manusia yang mengintip dari celah-celah pepohonan.

Mereka diselimuti kabut yang tebal. Tidak Riski pedulikan.

Baca Juga: Kembang Laruk bagian 28: Ini yang dirasakan tubuh Riski setelah tersesat di alam lain, beruntung ada Lika

Secepatnya sampai pos empat, hanya itu yang Riski pikirkan, begitu juga teman-temannya.

"Ra usah direken, lurus, ndelok nang ngarep wae! (Tidak usah dipedulikan, lurus, meihat ke depan saja)," teriak Puteri mengingatkan.

Namun, sedikit demi sedikit, perasaan was-was dengan sosok yang memperhatikan mereka semakin kentara.

Mahluk itu, semakin menunjukkan eksistensinya, di tengah hujan yang mulai reda.

Riski melepas penutup kepalanya, dan ia terus berjalan mengikuti punggung Koco di depannya.

Sebelum tiba-tiba, ia mndengar dengan jelas, jeritan Lika dari arah belakang.

Baca Juga: Kembang Laruk bagian 29: Jawaban yang membuat Koco semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada Riski?

Sontak, Riski berhenti bergerak, diam mematung.

Melihat Riski yang tiba-tiba saja terdiam, Lika cepat-cepat berkata.

"Onok opo, kowe ra usah noleh, ojok percoyo, aku karo Prio gak popo (Ada apa, kamu jangan menoleh, jangan percaya, aku dan Prio tidak apa-apa),"

Setelah Lika mengatakan itu, tidak lama kemudian terdengar suara tertawa seperti sedang menertawakan Riski.

"Hihihihi..." suara cekikian itu lebih mirip suara anak kecil.

Anehnya, sepertinya hanya Riski yang bisa mendengarnya.***

Editor: Jarot Sarwosambodo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X