Lebih jauh lagi, tim yang kuat dan disegani itu tidak lahir dengan wahyu keprabon, tidak seperti roket yang melesat dalam waktu sekian detik.
Ia butuh proses, dibentuk lalu ditatah oleh tangan-tangan yang berusaha menginjeksi semangat di tiap jengkalnya.
"Dengan kata lain fondasinya harus kuat dulu sehingga kapasitas unit-unit lain di bawah PT BPM bisa meningkat," katanya.
Baca Juga: Curahan Hati BCL Usai Dinikahi Tiko Aryawardhana di Bali
"Contohnya klub Bima Perkasa dan akademi BPJ untuk mencetak pemain yang nantinya akan diproyeksikan ke level nasional," sambung dr Edy.
Berchman Heroe memaknai penunjukkan ini sebagai tiga gunung lain yang harus ditaklukkan.
Ia menyadari BPJ bukan tim yang mampu membeli pemain berstatus bintang yang mahal.
Baca Juga: Jika Perang Gaza Tak Berakhir, Hamas Tak Akan Bebaskan Tentara Israel
Namun, kesadaran itu justru melahirkan gugusan mental tebal dalam diri Berchman Heroe.
"Sebab di sanalah menarik dan menantangnya, karena yang bisa dilakukan yaitu membangun pasukan yang siap menghadapi para pemain bintang mahal tadi," tegas direktur berpredikat 'human development' itu.
Tantangan kedua adalah mempertajam sekaligus mempertebal mental para pemain muda.
Ini yang akan memperkuat BPJ musim ini bersama tim pelatih dan seluruh elemen dalam tubuh satu-satunya wakil Yogyakarta di liga basket profesional Indonesia ini.
Baca Juga: Rumput gandum atau wheatgrass bantu tingkatkan kekebalan tubuh, berikut ini cara memanfaatkannya
Dengan kata lain hanya kerja keras yang membuat pasukan Bima Perkasa mampu mengalahkan para pemain mahal itu.
Tantangan lainnya adalah pengelolaan unit bisnis seperti BPJ Academy dan BPJ Junior.