Pameran Lukisan di Wawasima Kafe, Upaya Menyelaraskan Rasa

- Kamis, 9 September 2021 | 20:29 WIB
Seniman melakukan pemotretan karya untuk jebutuhan katalog dan promosi. (Istimewa)
Seniman melakukan pemotretan karya untuk jebutuhan katalog dan promosi. (Istimewa)

harianmerapi.com - Pameran lukisan dengan menggandengkan suasana Kafe dan karya seni digelar di Wawasima Kafe di Jalan Puri Sewon Asri Sawit Pendowoharjo Sewon Bantul.

Pameran digelar Dini Artproduction, diikuti 28 seniman berlangsung 20 September-20 Oktober 2021. Para seniman mengangkat suasana rasa kedamaian, karena masih bisa merokok dan minum kopi. Pameran akan dibuka Prof DR Margono, Senin (20/9/2021) pukul 16.30.

"Kadang bagi seorang seniman merokok akan menghidupkan imajinasi dan ngopi adalah sahabat menjaga lelah dan kepayahan dalam berkarya, sebenarnya menjaga imunitas itu dengan cara apapun, termasuk menyelaraskan rasa dan kemerdekaan berekspresi," kata Dodot Heru Widodo koordinator pameran ini.

Baca Juga: SMKM 2 Turi Beri Pembekalan Tentang PKS dan PMR untuk Menuju Sekolah Berkemajuan

Para seniman yang berpameran di antaranya Dodot Heru Widodo, Achid Librianto, Andi Miswandi, BJ Arifin, Astuti Kusumo, Ninus Anusapati, Yosepha Rembrandt, Johan Widya Anugrah, Julianto, Robet Khan, Lik Suyanto, Supri Monyeng, Heru Priono, Rengga Yulian, Rozig, Syarif Hidayat, Wiyono, Tri Sasongko, Edi Sarwono, Marsoyo, Alex Dani, Deny Junaedi, Heru Semarang, Agus Katro, Yamik, Andi Sules, Endro Banyu.

Masih kata Dodot, keselarasan rasa itu bermakna banyak, di antaranya kita pasti berempati dengan kondisi saat ini dimana beberapa orang sahabat atau sedulur kita yang telah tiada karena Corona?

Memang kematian sesorang bukan karena Corona saja, tapi lebih banyak karena takdir. Gusti Yang Maha Tahu mencukupkan umur seseorang bukan karena kebencian, kasihan atau bahkan karena kelucuannnya ketika masih hidup. Orang hidup pasti akan "ngenyang" jikalau ditawari mati, oleh malaikat maut sekalipun.

Baca Juga: 170 Siswa SMPN 4 Temanggung Mendapat Vaksinasi

Pasti orang itu menawar untuk dipanjangkan umurnya karena alasan klasik, belum siap. Ada yang merasa amalnya belum cukup, ada yang masih punya tanggungan anak dan bahkan ada yang bilang ngrokoknya belum habis.

Tinggalkan soal cerita kematian, toh setiap kita pasti suatu ketika akan menemuinya dan akan merasakan nikmat atau sebaliknya, bergantung saat kita hidup.
Nah, senyampang hidup pastilah kita ingin nglaraske raga dan jiwa, menikmati hakekat hidup sejati dengan bahagia dengan tanpa masalah dan ujian yang berat.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X