• Kamis, 1 Desember 2022

Gelombang demo muncul pasca G30S PKI 1965 tuntut pembubaran partai komunis, berujung anarkis dipicu hal ini

- Sabtu, 24 September 2022 | 13:05 WIB
Pasca peristiwa G30S PKI 1965 aksi unjuk rasa makin masif di Indonesia.  (Foto: dokumentasi buku Tentang PKI)
Pasca peristiwa G30S PKI 1965 aksi unjuk rasa makin masif di Indonesia. (Foto: dokumentasi buku Tentang PKI)

HARIAN MERAPI - Pasca peristiwa G 30S PKI 1965 situasi bangsa Indonesia tidak langsung adem ayem.

Sebaliknya, setelah G 30S PKI meletus itu gelombang unjuk rasa terus terjadi.
Unjuk rasa tidak hanya menuntut pembubaran partai komunis sebagai dalang G 30S PKI.

Tapi, juga menuntut penurunan harga-harga kebutuhan pokok, utamanya BBM dan beras.
Muncul banyak organisasi kemahasiswaan, tokoh agama, dan sebagainya yang merapatkan barisan untuk melancarkan tuntutan itu.

Nur Johan dalam bukunya tentang PKI menyebut massa parpol dan ormas membuat Kesatuan Aksi Pengganyangan PKI.

Baca Juga: Pasca peristiwa G30S PKI 1965, demonstrasi terjadi tiap hari, ekonomi terpuruk hingga rakyat sengsara

Sejumlah tokoh antara lain Subchan dan Yahya Ubaid dari NU. Kemudian, Prodjokoesoemo dari Muhammadiyah, dan banyak lagi.

Mereka menuntut pembubaran PKI dan menyebut G 30S PKI sebagai Madiun Kedua.
Membubarkan PKI memang tidak mudah karena saat itu PKI merupakan partai politik besar dan legal. Bahkan, PKI adalah pemenang Pemilu tahun 1955.

Namun, gerakan massa menuntut perbaikan ekonomi dan pembubaran PKI terus membesar. Pada tanggal 8 Oktober 1965, sekitar 42 partai dan ormas berkumpul di Taman Surapati Jakarta.

Pertemuan itu menghasilkan keputusan bersama. Mereka antara lain menyatakan berdiri di belakang Presiden Soekarno dalam menumpas G 30S PKI.

Baca Juga: Terkuaknya pemberontakan G30S PKI picu kemarahan rakyat, jenazah para jenderal ditemukan di Sumur Lubang Buaya

Halaman:

Editor: Herbangun Pangarso Aji

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ridwan Kamil dinilai bisa melengkapi Partai Golkar

Senin, 28 November 2022 | 18:08 WIB
X