• Kamis, 23 September 2021

Ratusan Burung Pipit Mati Mendadak di Bali dan Cirebon, Begini Analisa BKSDA

- Rabu, 15 September 2021 | 11:10 WIB
Tangkapan layar video petugas kebersihan Balai Kota Cirebon yang menemukan ratusan burung pipit mati masal di Kota Cirebon, Jawa Barat, Selasa (14/9/2021).  (ANTARA/Khaerul Izan)
Tangkapan layar video petugas kebersihan Balai Kota Cirebon yang menemukan ratusan burung pipit mati masal di Kota Cirebon, Jawa Barat, Selasa (14/9/2021). (ANTARA/Khaerul Izan)

DENPASAR, harianmerapi.com - Sebelum di Kota Cirebon Jawa Barat, fenomena ratusan burung pipit mati mendadak terjadi di Gianyar Bali.

Ratusan bangkai burung pipit ditemukan mati berjatuhan dari pohon di sekitar makam di Desa Pering, Kecamatan Blabatuh, Gianyar Bali, Kamis (9/9/2021). Bangkai burung langsung dikubur untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan.

Kejadian tersebut bukan pertama di Indonesia. Di Bali saja, menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), dalam lima tahun terakhir juga pernah ada kejadian di area Sanglah, Kota Denpasar, dan di Selemadeg Kabupaten Tabanan.

Baca Juga: Penyebab Ratusan Burung Pipit Mati Mendadak di Kota Cirebon Masih Diteliti

Kepala Seksi Wilayah 2 Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Sulistyo Widodo mengatakan, temuan ratusan bangkai burung pipit harus dibuktikan secara saintifik. Namun menurutnya ada beberapa kemungkinan, salah satunya diduga makan pakan yang tercemar pestisida.

"Kenapa mati mendadak harus dibuktikan secara ilmiah melalui proses otopsi dari bangkai dan kotoran burung. Tapi ada kemungkinan, salah satunya memakan pakan mengandung herbisida atau pestisida yang sifatnya toxic bagi burung," kata Sulistyo Widodo dalam siaran pers di Denpasar, Bali, Jumat (11/9/2021).

Setelah makan, tentu burung tidak langsung mati karena proses toksifikasi juga memakan waktu untuk sampai tingkatan mortalitas (kematian). "Kemungkinan besar saat burung burung tersebut beristirahat malam. Dan paginya bangkai burung berserakan. Jadi bukan akibat lokasinya di makam," ujarnya.

Baca Juga: Ombudsman Bali Soroti Dugaan Salah Input Data, Pasien Sembuh Tercatat Sudah Meninggal Akibat Covid-19

Kemungkinan kedua, tertular penyakit tertentu. Burung pipit hidup berkoloni dalam jumlah besar, maka penularannya akan cepat. Sehingga angka kematiannya juga dalam jumlah besar.

Selanjutnya, diduga akibat ada perubahan drastis iklim. Ia mencontohkan matinya ikan koi di kolam terbuka saat hujan pertama kali turun, atau matinya ribuan ikan dalam keramba akibat naiknya (up wheeling) endapan bahan kimia, atau cuaca panas dan kemudian tiba tiba turun hujan.

"Misalnya saja, cuaca di Bali sedang panas, pada saat burung burung beristirahat malam, tiba-tiba hujan lebat turun, suhu dan kelembaban udara berubah drastis, burung kaget, stres, dan kemudian mati massal. Ingat tingkat stres pada satwa sangat potensial menjadi penyebab mortalitas massal," ucapnya.

Baca Juga: Mantap! Indonesia Produksi Mobil Listrik Pertama Bulan Mei 2022

Halaman:

Editor: Sutriono

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Paha Siswi SMK di Palangka Raya Kena Peluru Nyasar

Selasa, 21 September 2021 | 08:55 WIB
X