• Sabtu, 13 Agustus 2022

Sejarah Kopi di Indonesia, Ditanam Belanda dari Malabar Ratusan Tahun Lalu dan Mendunia

- Sabtu, 27 November 2021 | 14:02 WIB
Sejarah kopi di Indonesia tidak akan hilang sebab setiap biji kopi mengingatkan akan perjalanan panjangnya (Wulan Yanuarwati)
Sejarah kopi di Indonesia tidak akan hilang sebab setiap biji kopi mengingatkan akan perjalanan panjangnya (Wulan Yanuarwati)

harianmerapi.com - Cita rasa biji kopi yang berasal dari Indonesia tidak bisa dipungkiri lagi kenikmatannya.

Kopi asal Indonesia dinilai sangat nikmat dan digemari oleh warga dunia. Bahkan kopi Jawa atau Java Coffee sangat terkenal dengan cita rasa kenikmatannya pada abad ke-17 di Eropa.

Tahukah kamu, kopi bukan komoditi asli Indonesia. Sejarah kopi di Indonesia dilansir dari laman museum.pertanian.go.id awalnya dibawa oleh Belanda pada abad ke-16.

Baca Juga: Horor Tinggal di Rumah Tua Zaman Belanda, Ada Sosok yang Masak Air di Dapur

Tepatnya pada tahun 1696, Belanda melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) membawa biji kopi dari daerah Malabar di India dan tidak menyangka biji kopi sangat cocok tumbuh di tanah Indonesia dan memberikan kesuksesan dan keuntungan besar bagi Belanda.

Biji kopi pertama yang ditanam di Indonesia ialah jenis kopi Arabika dan dibudidayakan pertama kali di daerah Kedawung dekat Batavia.

Meskipun penanaman pertama gagal karena bencana alam gempa bumi dan banjir, namun tidak mematahkan semangat Belanda untuk kembali menanam biji kopi pada tahun 1699.

Baca Juga: Rumahku Bukan Surgaku 21: Malam Pengantin yang Sangat Meresahkan

Biji kopi kembali didatangkan dari Malabar dan sukses besar dengan kualitas yang sangat baik dan kemudian dilakukan ekspansi penanaman biji kopi di Pulau Sumatera, Bali, Timor, dan pulau-pulau yang termasuk dalam Hindia Belanda.

Pada tahun 1711, Bupati Cianjur, Arya Wiratama menyetor hasil perkebunan kopi ke VOC untuk pertama kalinya dari hasil perkebunan kopi di Priangan yang kemudian membuat VOC berambisi untuk melakukan penanaman besar-besaran mulai tahun 1720.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X