Masyarakat Imogiri Bantul Gelar Tradisi Nyadran Agung Mentaraman 2024, Manifestasi Semangat Gotong Royong

photo author
Redaksi Merapi, Harian Merapi
- Senin, 4 Maret 2024 | 15:55 WIB
Salah satu penampilan kelompok kesenian larasmadya dari Imogiri dalam acara tradisi Nyadran.  (Teguh Priyono)
Salah satu penampilan kelompok kesenian larasmadya dari Imogiri dalam acara tradisi Nyadran. (Teguh Priyono)

HARIAN MERAPI - Masyarakat Jawa masih kental dengan tradisi Nyadran yang biasa dilaksanakan pada bulan Ruwah dalam perhitungan kalender Sultan Agungan.

"Secara umum orang Jawa menyebutnya ruwahan yang juga identik dengan tradisi Nyadran," ungkap Ketua Panitia Nyadran Agung Metaraman 2024, Mujiono S.Sn yang akrab disapa Muji Cino saat perhelatan tahunan ini berlangsung, Minggu (3/3/2024).

Menurut Muji Cino, adat tradisi Nyadran merupakan manifestasi dari semangat gotong royong yang masih demikian kental dalam masyarakat Jawa.

Baca Juga: 4 truk penambang pasir terjebak aliran lahar dingin Gunung Semeru, begini pemandangannya

Ketika mengawali tradisi Nyadran secara kelompok masyarakat melaksanakan besik atau kerja bakti gotong royong dengan membersihkan makam para leluhur.

Setelah itu mereka kemudian menggelar adat tradisi Nyadran dengan kenduri bersama untuk memuliakan.

Dijelaskan Muji Cino, Nyadran berasal dari tradisi pra Islam yang dikenal dengan tradisi Sraddha atau memuliakan leluhur setelah pengaruh Islam kemudian berkembang menjadi Nyadran dengan doa doa sesuai denga agama Islam.

"Tradisi adat Nyadran sendiri merupakan hasil dari akulturasi budaya yang berjalan secara damai dan masyarakat Jawa menerima tradisi ini menjadi bagian dari budaya adiluhung yang terus dilestarikan hingga saat ini," urai Muji Cino.

Baca Juga: 4 Hari Hilang Tenggelam, Mayat Mbah Nyamat Ditemukan Mengambang di Sungai Braholo Boyolali

Pelaksanaan Nyadran Agung Mentaraman 2024 yang difasilitasi Kepanowon Imogiri mendapat dukungan dari 8 Desa yang ada seperti Wukirsari, Imogiri, Karangtalun, Kebonagung, Karangtengah, Girirejo, Sriharjo, dan Selapamioro dengan menampilkan berbagai seni tradisi mocopatan, larasmadya dan atraksi seni tradisi lainnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan ziarah ke makam leluhur untuk melakukan tradisi Nyakar atau tabur bunga dan doa diantaranya ke makam Sultan Agung dan para raja dinasti Mataram Islam di Pajimatan Imogiri. *

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Husein Effendi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X