• Selasa, 9 Agustus 2022

Kontroversi ganja medis, IDI : Harus dievaluasi dalam bentuk riset

- Senin, 4 Juli 2022 | 23:05 WIB
Arsip - Seorang pekerja merawat tanaman ganja di pertanian Rak Jang, salah satu pertanian pertama yang diberi izin oleh pemerintah Thailand untuk menanam ganja dan menjual produknya ke fasilitas medis, di Nakhon Ratchasima, Thailand, 28 Maret 2021.  (ANTARA/Reuters/Chalinee Thirasupa)
Arsip - Seorang pekerja merawat tanaman ganja di pertanian Rak Jang, salah satu pertanian pertama yang diberi izin oleh pemerintah Thailand untuk menanam ganja dan menjual produknya ke fasilitas medis, di Nakhon Ratchasima, Thailand, 28 Maret 2021. (ANTARA/Reuters/Chalinee Thirasupa)

JAKARTA, harianmerapi.com - Penggunaan ganja medis saat ini masih memerlukan pengkajian yang mendalam guna memastikan keamanan dan keselamatan pasien.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr. M. Adib Khumaidi, SpOT mengatakan hal itu usai pembukaan Konferensi Asosiasi Dokter Medis Sedunia di Jakarta, Senin (4/7/2022).

"Kita harus benar-benar mengkaji ini karena setiap apa pun yang diberikan kepada kita, apalagi yang sifatnya medicine, pasti akan ada namanya efek samping dan itu tetap harus jadi perhatian kita," kata Adib.

Baca Juga: Hajar Brunei Darussalam 7-0, Indonesia duduki peringkat kedua klasemen sementara

Dia menyatakan, obat baru harus berbasis pada bukti klinis.Oleh karenanya perlu dikaji apakah obat tersebut dapat dijadikan sebagai obat utama, obat pendukung yang diberikan bersamaan dengan obat lain, atau obat alternatif jika pengobatan sebelumnya tidak berhasil.

"Ini yang harus kita pahami karena dalam penatalaksanaan sebuah disease atau penyakit itu ada yang namanya golden standard, mana yang harus kita obati dan mana pengobatannya. Semuanya melewati proses berbasis bukti," jelas Adib.

"Jadi kita harus benar-benar mengevaluasi dalam bentuk riset, karena kepentingan kita saat ini adalah keselamatan pasien," tegasnya.

Baca Juga: 87 persen kasus Covid-19 yang beredar di Indonesia saat ini merupakan sub-varian baru BA.5, Apa Itu?

Adapun proses riset tersebut, kata Adib, meliputi berbagai tahapan termasuk pengumpulan jurnal-jurnal ilmiah yang sudah ada untuk dijadikan referensi, analisis data, hingga tahap uji klinis.

Adib kemudian mengatakan bahwa IDI siap berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan untuk berkolaborasi membuat satu kajian ilmiah mengenai ganja medis.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Fungsi Garam bagi Tubuh Seberapa Penting?

Selasa, 5 Juli 2022 | 21:50 WIB

Tips untuk Mencegah dan Mengobati Kutil Kelamin

Rabu, 15 Juni 2022 | 19:40 WIB

Kanker Darah, Inilah Gejala pada Umumnya

Rabu, 8 Juni 2022 | 21:10 WIB
X