BI naikkan suku bunga acuan jadi 6,00 persen untuk jaga Indonesia dari risiko ekonomi global

photo author
Widyo Suprayogi, Harian Merapi
- Selasa, 24 Oktober 2023 | 21:55 WIB
Ilustrasi. Logo Bank Indonesia (Antara/Dokumentasi BI)
Ilustrasi. Logo Bank Indonesia (Antara/Dokumentasi BI)

HARIAN MERAPI -Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 6,00 persen bertujuan untuk menjaga Indonesia dari risiko ekonomi global.

Pasalnya, perekonomian global menunjukkan kinerja pertumbuhan yang melambat serta ketidakpastian yang makin meningkat.

“Yang menjadi perhatian adalah aliran modal asing yang masuk dan risk appetite yang berubah. Ini mendorong readjustment portofolio global yang secara keseluruhan memberikan tekanan depresiasi cukup besar. Faktor ini yang ingin kami mitigasi segera,” kata Kepala Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Firman Muchtar saat kegiatan BNI Investor Daily Summit 2023, di Jakarta, Selasa (24/10/2023).

Baca Juga: Festival Anak Lereng Merapi, tanamkan pendidikan karakter sejak usia dini

Firman menjelaskan perlambatan ekonomi global turut dibarengi dengan divergensi yang makin melebar. Perekonomian Amerika Serikat yang diperkirakan melandai justru menunjukkan penguatan dari sisi permintaan domestik.

Sementara itu, China yang diharapkan bergerak membaik seiring dengan pelepasan restriksinya, justru menunjukkan perkembangan ekonomi yang terus menurun.

Pada saat yang sama, terjadi eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada peningkatan harga energi serta kenaikan harga pangan. Gejolak pada kedua komoditas strategis tersebut berpotensi mempengaruhi kinerja perekonomian domestik.

BI juga turut mempertimbangkan kebijakan moneter Amerika Serikat yang diperkirakan masih bertahan dengan suku bunga yang tinggi hingga semester pertama 2024.

Baca Juga: Resep hidup bahagia di tengah badai kehidupan; salah satunya dengan hidup sederhana

“Ini penting, bagaimana situasi defisit fiskal mereka yang membengkak akan membutuhkan bond yang lebih banyak dan pada gilirannya meningkatkan imbal hasil dari dolar AS, sehingga divergensi makin melebar,” kata Firman.

Sejumlah kondisi tersebut diperkirakan akan memicu risk appetite dari para investor, sehingga mereka mengalihkan portofolio. Kekhawatiran lain yang muncul adalah kurs dolar AS menguat secara global, sehingga negara-negara berkembang makin mengalami tekanan depresiasi yang besar.

“Gambaran global ini menjadi perhatian kami, karena akan mempengaruhi bagaimana ketahanan sektor eksternal kita. Kami mengambil langkah pencegahan agar kondisinya tidak semakin berlanjut dan melebar, sehingga bisa tetap menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen pada 2023 dan tetap solid pada 2024,” ujar Firman pula.(*)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X