• Senin, 23 Mei 2022

Tokoh Lintas Agama Deklarasi Ajak Jaga Semangat Toleransi dan Antisipasi Varian Omicron Jelang Nataru

- Kamis, 23 Desember 2021 | 20:35 WIB
Tokoh lintas agama saat deklarasi mengajak warga menjaga toleransi. (Foto: dokumen panitia diskusi tokoh lintas agama)
Tokoh lintas agama saat deklarasi mengajak warga menjaga toleransi. (Foto: dokumen panitia diskusi tokoh lintas agama)

SLEMAN,harianmerapi.com- Tokoh Lintas Agama di DIY mengajak warga untuk mensukseskan program pemerintah menekan angka penularan Covid-19. Salah satunya dengan tidak berkerumun di saat libur Nataru. Selain itu juga menguatkan peran bersama melawan Covid-19.

"Kita harus bersatu melawan pandemi dengan sikap toleransi antar umat beragama," ujar Wakil Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU Pusat, KH Umaruddin Masdar dalam acara diskusi dan deklarasi ajakan menjaga semangat toleransi dan antisipasi varian Omicron jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Sleman, Kamis (23/12/2021).

Dijelaskan, konsep sederhana toleransi adalah agama mengajarkan kebaikan dan tidak ada agama yang mengajarkan kebencian.

Umarudin menegaskan harus ada peraturan dan harmoni yang sinergis dalam praktiknya di masyarakat sebagai usaha menjaga toleransi. Hal ini tidak cukup hanya imbauan hidup rukun berdampingan saja, namun benar-benar ada sebuah realisasi yang diterapkan di lingkungan sehari-hari.

Baca Juga: Candi Borobudur Tetap Terima Kunjungan Wisatawan Selama Libur Nataru, Tapi dengan Syarat Ketat

"Media perlu memblow-up sikap sikap toleransi yang riil dilakukan di lingkungan masyarakat. Kedepan dalam legislasi, DIY merencanakan akan ada Perda Pancasila NKRI masuk dalam sekolah-sekolah dan melawan paham radikal dan intoleran," jelasnya.

Kepala PUSDEMA (Pusat Kajian Demokrasi dan HAM), Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Baskara T. Wardaya SJ menambahkan dalam berbagai peristiwa beberapa tahun lalu, kejadian intolerasi memang terjadi di DIY. Akan tetapi perlu dilihat secara menyeluruh, pelakunya seringkali dari orang luar DIY atau belum lama tinggal di DIY.

"Entah itu orang dari luar atau belum lama tinggal di DIY. Kalau warga Jogja yang sudah lama tinggal di sini dia sudah terbiasa dengan toleransi," bebernya.
Ia menyebutkan tindakan toleransi lebih banyak terjadi di perkotaan karena perpindahan penduduk secara masif dan sulit terpantau.

Baca Juga: Polisi Tempeli Stiker Khusus Rumah Warga yang Memiliki Anggota Keluarga Perantau dan Mudik di Nataru

"Berbeda dengan di desa, mobilitas pendatang bisa dipantau sekaligus memantau aktivitas masyarakat dengan mudah," urainya lagi.

Halaman:

Editor: Herbangun Pangarso Aji

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X