• Jumat, 22 Oktober 2021

Ada Perbedaan Jenis Vaksin yang Telah Beredar di Masyarakat. Ini Kata dr. Reisa Broto Asmoro

- Senin, 20 September 2021 | 19:15 WIB
Tangkapan layar Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 dan Duta Perubahan Perilaku dr. Reisa Broto Asmoro dalam Siaran Sehat bertajuk “Vaksin COVID-19 di Indonesia” yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (20/9/2021) ( (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti))
Tangkapan layar Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 dan Duta Perubahan Perilaku dr. Reisa Broto Asmoro dalam Siaran Sehat bertajuk “Vaksin COVID-19 di Indonesia” yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (20/9/2021) ( (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti))

JAKARTA, harianmerapi.com - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dan Duta Perubahan Perilaku dr. Reisa Broto Asmoro mengatakan terdapat beberapa perbedaan pada setiap jenis vaksin yang telah beredar di dalam masyarakat.

“Bedanya dari segi vaksinnya sendiri selain produsennya, tentunya pendekatan pembuatan vaksin ini juga berbeda-beda,” kata Reisa dalam Siaran Sehat bertajuk “Vaksin Covid-19 di Indonesia” yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (20/9/2021).

Reisa mengatakan keenam vaksin yang kini beredar di masyarakat, dibuat oleh para produsen dengan menggunakan beberapa cara yang berbeda untuk dapat menghasilkan sebuah vaksin yang dapat menjamin mutu kesehatan masyarakat.

Baca Juga: Kondisi Semakin Membaik, Pemerintah Akan Uji Coba Pembukaan Mal Bagi Anak Usia di Bawah 12 Tahun

Pada vaksin Sinovac dan Sinopharm, dia menyebutkan para produsen menggunakan virus yang dimatikan untuk membuat vaksin. Sedangkan AstraZeneca dan Johnson and Johnson dibuat dengan menggunakan pendekatan viral vector (virus hasil rekayasa genetika).

Berbeda dengan vaksin dengan merek Pfizer dan Moderna yang dibuat berdasarkan Messenger RNA (mRNA) yang dimiliki oleh suatu virus.

“Kemudian yang berbeda pula adalah jarak atau interval suntikkannya, antara dosis pertama dengan dosis kedua ini berbeda-beda,” ujar Reisa.

Baca Juga: Tidak Ingin Kecolongan Lagi, Pemerintah Akan Batasi Pintu Masuk Perjalanan Internasional ke Indonesia

Ia menjelaskan, vaksin Sinovac dan Moderna memiliki jarak waktu 28 hari atau empat minggu untuk dapat kembali mendapatkan suntik vaksin dosis kedua dan AstraZeneca perlu diberikan jarak 12 minggu untuk suntikkan dosis selanjutnya.

Sedangkan Sinopharm dan Pfizer membutuhkan jarak 21 hari untuk bisa melakukan vaksinasi kedua. Untuk vaksin Johnson and Johnson tidak memiliki jarak interval, karena hanya akan diberikan dalam satu kali penyuntikkan saja.

“Yang berbeda lagi dari segi penyimpanannya. Khusus untuk vaksin Moderna dan Pfizer, karena ini berbeda dengan jenis vaksin yang lain maka suhu vaksin yang berbasis mRNA harus sesuai dengan ketentuannya, yakni disimpan dalam freezer atau harus beku dengan suhu minus 80 derajat Celcius,” kata dia menjelaskan perbedaan lainnya.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X