• Kamis, 23 September 2021

Petani Tembakau di Temanggung Berharap Cuaca Bersahabat di Sisa Masa Petik

- Rabu, 15 September 2021 | 12:44 WIB
Lahan tembakau di lereng Gunung Sumbing, daun tembakau kembali muda karena terguyur hujan.  (Foto: Zaini Arrosyid)
Lahan tembakau di lereng Gunung Sumbing, daun tembakau kembali muda karena terguyur hujan. (Foto: Zaini Arrosyid)

TEMANGGUNG, Harianmerapi.com - Petani berharap sisa masa petik daun tembakau, cuaca bersahabat dengan tidak lagi turun hujan dan matahari bersinar terik agar muncul daun tembakau berkualitas. Proses pembuatan menjadi tembakau rajangan pun terbaik.

Ketua DPC APTI Kabupaten Temanggung Siyamin mengatakan mendung jangan ada lagi dan hujan tak lagi turun. Hujan dalam beberapa hari terakhir telah berdampak negatif dan kurang menguntungkan bagi dunia pertembakauan di Kabupaten Temanggung.

" Hujan di lahan tembakau di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing mengakibatkan daun yang telah menua menunggu petik, menjadi basah dan kembali muda. Tanah juga basah," kata Siyamin, Rabu (15/9/2021).

Baca Juga: Vaksin Covid-19 Saat Ini Masih Ampuh Hadapi Corona Varian Baru, Simak Penjelasan Guru Besar FK UI

Dia mengatakan setelah tersiram hujan, kandungan nikotin pada daun tembakau kembali rendah, ini yang dimaksud kembali muda, butuh proses lama untuk menaikkan kandungan nikotin.

Dikatakan butuh waktu minimal satu minggu untuk menaikkan kandungan nikotin yang ditandai daun menjadi tebal dan siap dipetik. Ini dapat terjadi jika cuaca mendukung yakni daun terpapar sinar matahari sepanjang hari dan tanpa hujan.

Dikemukakan daun tembakau di lahan masih tersisa 15 - 20 persen. Daun tersebut banyak ditunggu petani karena merupakan daun terbaik, jika diproses menjadi tembakau rajangan kering masuk pada totol E dan F ke atas. Totol ini harganya mahal, hingga Rp 150 ribu perkilogram. Daun tembakau srintil harga di atas Rp 150 ribu perkilogram.

Baca Juga: Kapolda Perintahkan Sebar Foto DPO KNPB Maybrat yang Serang Posramil Kisor, Inilah Wajah Mereka

Beda dengan daun petikan sebelumnya, lanjut dia, yang ketika dijadikan tembakau rajangan kering harganya lebih rendah. Saat ini oleh pabrikan rokok dibeli Rp 40 ribu - Rp 50 ribu per kilogram. Harga itu sangat merugikan petani, sebab tidak menutup biaya produksi, seperti pengolahan lahan, pemeliharaan dan produksi menjadi tembakau rajangan kering.

Halaman:

Editor: Hudono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Polres Temanggung Gelar Operasi Patuh Candi

Senin, 20 September 2021 | 21:28 WIB

Guru Keluhkan Passing Grade Seleksi PPPK di Temanggung

Selasa, 14 September 2021 | 20:59 WIB
X