BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen, Ekonom : Pemerintah bisa meredam dampaknya

- Jumat, 18 November 2022 | 20:38 WIB
Logo BI yang tersembunyi bisa dilihat dari sudut pandang tertentu.  (Tangkapan layar YouTube BI)
Logo BI yang tersembunyi bisa dilihat dari sudut pandang tertentu. (Tangkapan layar YouTube BI)

HARIAN MERAPI - Kenaikan Suku Bunga Acuan Bank Indonesia (BI7DRR) menjadi 5,25% akan menimbulkan dampak negatif, namun bisa diredam oleh pemerintah.

Menurut ekonom Indef Agus Herta Sumarto, dampak negatif yang paling dirasakan adalah kenaikan suku bunga kredit perbankan dan lembaga keuangan.

"Kenaikan suku bunga kredit ini akan sangat dirasakan oleh para pelaku industri karena biaya modal menjadi meningkat. Padahal selama ini mereka sudah terbebani oleh kenaikan harga input produksi & energi,“ jelas Agus saat berbincang, Jumat (18/11/2022).

Baca Juga: Golok Pusaka Indonesia akan didaftarkan ke UNESCO, begini alasannya..

Oleh karena itu, pemerintah harus membuat kebijakan shock absorber yang dapat meredam efek negatif kenaikan BI7DRR dari dua sisi sekaligus, supply dan demand.

“Dari sisi supply, pemerintah bersama Bank Indonesia dapat memberikan relaksasi terhadap berbagai pungutan yang selama ini menjadi beban biaya yang harus ditanggung para pelaku industri,” ungkap Agus.

Kemudian dia menambahkan, pemerintah melalui kebijakan fiskalnya dapat secara temporer memberikan relaksasi pajak dengan memberikan beberapa kebijakan tax holiday dan memberikan subsidi suku bunga khusus untuk sektor-sektor padat karya sehingga bisa mengurangi beban biaya modal yang meningkat akibat kenaikan BI7DRR.

Baca Juga: Sambut keseruan Piala Dunia 2022 Qatar, IOH siapkan paket khusus nonton dari IM3 dan Tri

Dengan adanya insentif dari pemerintah, maka memangkas biaya modal, sehingga diharapkan tidak perlu lagi efisiensi dari sumber daya manusia, alias melakukan PHK.

Kemudian dari sisi demand, pemerintah diminta terus menggelontorkan program jaring pengaman sosial untuk menjaga daya beli masyarakat. Misalnya Bansos, BSU dan BLT.

“Masyarakat yang tergerus daya belinya baik akibat kenaikan harga barang dan jasa ataupun karena berkurangnya pendapatan, dapat tetap melakukan konsumsi sehingga permintaan terhadap barang dan jasa yang diproduksi perusahaan tidak mengalami perubahan signifikan,” ungkap Agus.

Baca Juga: Kasus kematian satu keluarga di Jakarta Barat, polisi periksa dua anak perempuan korban

Masih Di atas 5%

Sementara itu, Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengungkapkan meski suku bunga acuan naik, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih bisa menembus angka 5,17%. "Masih 5,17%," ujarnya

Menurutnya, ekonomi Indonesia masih bisa bertahan meski dibayang-bayangi ketidakpastian global. Neraca transaksi berjalan terus mencatat surplus di Kuartal IV 2022, berkat harga komoditas yang tinggi. Meski demikian, ia mengingatkan pertumbuhan impor telah mengejar pertumbuhan ekspor.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pay Changer jajaki pasar di Indonesia

Senin, 23 Januari 2023 | 08:00 WIB
X