HARIAN MERAPI — Upaya peningkatan daya saing industri batik terus didorong melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. Puluhan perajin batik dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti Pelatihan Berbasis Kompetensi Skema Pembuatan Malam Batik yang digelar pada 13–17 April 2026 di Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kulit, Karet, dan Plastik Yogyakarta.
Kegiatan ini merupakan hasil kemitraan antara pemerintah daerah dan DPRD DIY dalam mendorong pengembangan sektor ekonomi kreatif, khususnya subsektor batik. Pelatihan tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga diarahkan pada standar kompetensi yang diakui secara nasional.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY, Iwan Pramana, menegaskan bahwa pelatihan berbasis kompetensi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pelaku usaha batik sekaligus nilai produk yang dihasilkan.
“Ini bukan pelatihan biasa, karena berbasis kompetensi. Peserta nantinya akan mendapatkan sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai bentuk pengakuan atas kemampuan mereka,” ujar Iwan.
Ia menjelaskan, peningkatan kompetensi diharapkan berdampak langsung pada efisiensi produksi. Dengan keterampilan yang lebih baik, pelaku usaha dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan pendapatan.
“Kalau biaya bisa ditekan dan kualitas naik, maka nilai jual produk juga meningkat. Ini yang kita dorong agar pelaku batik semakin berdaya saing,” tambahnya.
Selain teknik pembuatan malam batik, materi pelatihan juga mencakup pengelolaan limbah produksi. Menurut Iwan, aspek ini penting untuk mendukung keberlanjutan industri batik sekaligus memanfaatkan limbah agar memiliki nilai tambah.
“Pengolahan limbah juga kami masukkan sebagai materi, agar limbah bisa dikelola dan dimanfaatkan kembali, termasuk mendukung sektor wisata,” jelasnya.
Pada tahun ini, Pemda DIY menargetkan sebanyak 176 pelaku ekonomi kreatif memperoleh sertifikasi kompetensi. Program tersebut, lanjut Iwan, tidak lepas dari dukungan DPRD DIY, baik dalam perencanaan maupun penganggaran.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD DIY, Rifki Listianto, menegaskan komitmen lembaganya dalam mendorong pertumbuhan UMKM dan ekonomi kreatif di DIY. Menurutnya, sektor ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
“Kami berkomitmen penuh untuk mendorong tumbuhnya UMKM, khususnya di sektor ekonomi kreatif. Dukungan anggaran juga telah kami siapkan,” kata Rifki.
Ia menyebutkan, alokasi anggaran sekitar Rp1,9 miliar telah disiapkan dan didistribusikan ke berbagai program pengembangan, termasuk pelatihan dan sertifikasi bagi pelaku usaha.
Dengan adanya pelatihan berbasis kompetensi dan dukungan sertifikasi, diharapkan para perajin batik di DIY tidak hanya mampu meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar nasional maupun internasional.*