HARIAN MERAPI – Pemerintah Kota Magelang tak sekadar menerima 24 dokter dan dokter gigi internship, tetapi juga “menantang” mereka untuk membuktikan kualitas sebagai tenaga medis yang utuh—tajam secara ilmu, sekaligus kuat dalam empati.
Dalam sarasehan di Pendopo Pengabdian, Jumat (10/4/2026), Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menegaskan bahwa profesi dokter tidak boleh berhenti pada kemampuan klinis semata. Ia menyoroti masih adanya jarak antara kecakapan medis dan sentuhan kemanusiaan di lapangan.
“Dokter hebat bukan hanya yang mampu menyembuhkan, tetapi juga yang bisa menenangkan,” tegasnya.
Baca Juga: Hidup penuh makna, diantaranya memberikan yang terbaik
Damar mengingatkan, Kota Magelang harus dijadikan laboratorium nyata bagi para dokter muda. Di sanalah integritas diuji, komunikasi diasah, dan ketangguhan mental ditempa. Ia menolak pola pikir instan dalam pelayanan kesehatan yang kerap mengabaikan sisi empati.
Senada, Wakil Wali Kota dr. Sri Harso menegaskan para peserta internship bukan pelengkap, melainkan bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan daerah. Meski masa tugas hanya sekitar satu tahun, kontribusi mereka dinilai krusial.
Ia bahkan mengingatkan hal-hal mendasar yang kerap disepelekan: kedisiplinan, kerapian, hingga pemahaman fasilitas layanan. “Kenali sistemnya, hormati profesinya,” ujarnya.
Diskusi yang menyusul membuka sejumlah persoalan nyata. Mulai dari kebutuhan layanan laboratorium sore hari, perbaikan alat kesehatan di Puskesmas, hingga efektivitas poliklinik sore yang terbukti menjawab kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Polisi Masih Buru Pelaku Pembacokan di Godean, CCTV Jadi Fokus Penyelidikan
Pesan Pemkot jelas: dokter muda tidak hanya dituntut pintar, tetapi juga peka—karena pelayanan kesehatan bukan sekadar prosedur, melainkan soal kemanusiaan. (*)