• Sabtu, 13 Agustus 2022

Pencapaian Target RAPBN 2022 Sangat Tergantung Dari Pengendalian Pandemi Covid-19

- Senin, 16 Agustus 2021 | 17:34 WIB
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah ( ANTARA/HO-Banggar DPR)
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah ( ANTARA/HO-Banggar DPR)

JAKARTA, harianmerapi.com - Pencapaian target-target dalam RUU APBN Tahun Anggaran 2022 dan Nota Keuangan yang baru saja disampaikan oleh Presiden Joko Widodo sangat tergantung pada sejauh mana keberhasilan dalam mengendalikan pandemi Covid-19.

"Oleh sebab itu, pemerintah memiliki waktu hanya satu semester untuk menaklukkan pandemi. Padahal tantangan menghadapi pandemi Covid-19 masih sangat besar. Misalnya target realisasi vaksinasi yang masih rendah jika dibandingkan dengan negara maju, target testing dan tracing yang masih rendah dan naik turun, kecukupan fasilitas kesehatan, khususnya di luar Jawa yang masih rendah," kata Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah, dalam keterangan di Jakarta, Senin (16/8/2021).

Said pun berharap segenap kementerian dan lembaga, termasuk pemerintah daerah, dapat meningkatkan kinerjanya. Pasalnya, pandemi Covid-19 masih menjadi sumber ketidakpastian terbesar atas situasi ekonomi nasional ke depan.

"Pandemi Covid-19 menjadi game changer. Bisakah kita lalui pada tahun 2021, tentu sangat bergantung kinerja kita selama enam bulan kedepan," kata Said.

Baca Juga: Pilot Ini Banting Stir Jadi Pedagang Ikan. Omztenya Sampai Miliaran Rupiah

Selain itu, lanjut Said, target pertumbuhan ekonomi pada 2022 sebesar 5 - 5,5 persen bisa diraih jika pada tahun ini 2021 pertumbuhan ekonomi minimal 3,3 persen. Pemerintah kini memiliki sisa dua kuartal untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi pada zona positif minimal 3 persen sebagai baseline.

"Saya perkirakan kuartal III 2021 akan mengalami kontraksi sekitar 1,7-2,2 persen akibat PPKM yang menekan sektor riil. Untuk itu pada kuartal IV 2021, pemerintah harus bisa minimal mencapai target pertumbuhan PDB 4,7 persen," ujar Said.

Di sisi lain, Said juga meminta pemerintah perlu disiplin dalam menjaga target defisit APBN. Sebab pada 2022 ini adalah tahun terakhir dapat melebarkan defisit lebih dari 3 persen terhadap PDB.

"Pada tahun 2022 adalah transformasi (jembatan) kembali ke defisit maksimal 3 persen pada tahun 2023," kata Said.

Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi apabila penerimaan perpajakan nasional pada 2022 tidak tercapai, pemerintah perlu mengoptimalkan kreativitas pembiayaan yang tidak hanya bertumpu pada pembiayaan utang. Tingginya tingkat bunga yang harus dibayar setiap tahun sekitar Rp300 triliun memangkas ruang fiskal cukup signifikan.

Halaman:

Editor: Widyo Suprayogi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X