Panjang angan-angan adalah perasaan berharap panjang akan hidup di dunia, sehingga seseorang menunda-nunda amal saleh dan tidak mempersiapkan diri untuk akhirat. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT mengingatkan kita akan bahaya cinta dunia dan panjang angan-angan (QS. At-Takatsur: 1-2).
Kelima, taswif (menunda amal). aswif atau menunda amal adalah kebiasaan menunda-nunda melakukan amal saleh dengan alasan "nanti saja" atau "besok saja". Taswif bisa membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk beramal dan mempersiapkan diri untuk akhirat. Contoh taswif: "Nanti saja aku shalat, aku lagi sibuk" "Besok saja aku sedekah, aku lagi gak punya uang" "Aku akan tobat nanti, aku masih muda".
Taswif bisa membuat seseorang terjebak dalam kelalaian dan tidak sadar akan waktu yang berlalu. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT mengingatkan kita akan bahaya menunda-nunda amal (QS. Al-Munafiqun: 10). Cara menghindari taswif: lakukan amal saleh sekarang juga, jangan menunda-nunda kewajiban agama, fokus pada kesempatan yang ada saat ini, dan beristighfar dan muhasabah diri.
Keenam, teman yang buruk. Teman yang buruk adalah orang yang bisa mempengaruhi kita ke arah yang tidak baik, seperti: mengajak maksiat atau dosa, menghalangi kita dari beribadah, membuat kita lupa akan akhirat, dan mengajak kita melakukan hal yang sia-sia.
Contoh teman yang buruk: teman yang suka mengajak mabuk atau narkoba, teman yang suka bergosip atau menyebarkan aib orang, teman yang tidak mau shalat atau beribadah. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa temannya." (HR. Abu Dawud).
Ketujuh, harta dan makanan haram. Harta dan makanan haram adalah harta dan makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal, seperti: mencuri, korupsi, riba, penipuan, makan dari hasil yang haram. Dalam Islam, harta dan makanan haram bisa membuat: doa tidak dikabulkan, amal saleh tidak diterima, berkah hilang, dasyatnya azab di akhirat.
Contoh harta haram: Uang hasil korupsi, makanan dari hasil riba, barang hasil pencurian. Cara menghindari harta dan makanan haram: cari rezeki dengan cara yang halal, jauhkan diri dari riba dan penipuan, periksa sumber harta dan makanan, dan beristighfar jika terlanjur makan haram.
Kedelapan, kebodohan terhadap agama. Kebodohan ilmu agama bisa membuat pahala amal saleh kita menjadi sia-sia. Jika kita tidak tahu aturan dan tata cara beribadah yang benar, maka ibadah kita bisa tidak diterima. Contoh kebodohan ilmu agama: shalat tapi tidak tahu rukun dan syaratnya, puasa tapi tidak tahu niat dan batalnya, sedekah tapi tidak tahu niat dan caranya. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak" (HR. Muslim).
Cara menghindari kebodohan ilmu agama: belajar ilmu agama dengan benar, tanya kepada ulama atau ustadz yang kompeten, baca buku dan artikel agama yang terpercaya, dan mengikuti kajian dan pengajian yang benar. Dalil: QS. Az-Zumar: 9 “Apakah sama orang yang tahu dengan yang tidak tahu?”. Hadits: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Kesembilan, sombong menolak kebenaran. Sombong dan menolak kebenaran bisa membuat pahala amal saleh kita menjadi sia-sia. Jika kita tidak mau menerima nasihat dan kebenaran, maka amal kita bisa tidak diterima.
Contoh sombong menolak kebenaran: tidak mau menerima kritik atau saran, menganggap diri sendiri paling benar, tidak mau belajar dari orang lain, dan menolak kebenaran karena ego atau gengsi Dalam Al-Qur'an, Allah SWT mengingatkan kita akan bahaya sombong (QS. Al-A'raf: 146). Cara menghindari sombong: selalu introspeksi diri, mau menerima kritik dan saran, belajar dari orang lain, dan mengakui kebenaran dan kesalahan diri.
Kesepuluh, dosa kecil yang diremehkan. Remehkan dosa kecil bisa membuat kita tidak sadar bahwa dosa itu bisa menjadi besar di hadapan Allah SWT. Jika kita tidak waspada, dosa kecil bisa menumpuk dan membuat amal saleh kita tidak diterima.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda: "Jauhilah dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bisa menumpuk pada seseorang hingga ia binasa" (HR. Ahmad). Cara menghindari remehkan dosa kecil: selalu waspada dan introspeksi diri, menganggap semua dosa itu besar, beristighfar dan bertaubat segera, dan fokus pada perbaikan diri. *
Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si.,
Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta,
Penasehat Paguyuban Keluarga Sakinah Teladan (KST) Provinsi DIY