YIA Dilengkapi Alat Pendeteksi Gempa

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY memasang sejumlah peralatan pendeteksi gempa di Yogyakarta Internasional Airport (YIA) Kulonprogo.

Upaya antisipasi tetap dilakukan, meskipun sebetulnya YIA sudah didesain tahan gempa hingga 8,5 skala richter dengan ketinggian tsunami maksimum mencapai 9 meter.

“Sehingga malah kalau ada gempa jangan kemana-mana, di situ saja kalau kekuatan kurang dari 8 (skala richter). Paling aman di situ. Dan itu sudah didesain tinggi tsunami maksimum 9 meter mencapai lantai dasar. Jadi kalau di bangunan itu malah aman. Malah yang dari luar diarahkan masuk ke terminal,” jelas Kepala BMKG Dwikorita Karnawati usai menemui Gubernur DIY, Sri Sultan HB X di Bangsal Kepatihan, Selasa (18/8).

Dwikorita mengatakan akan ada pemasangan alat akselerometer untuk mengukur kecepatan gempa bumi yang dipasang di crisis center bandara guna mempercepat penghitungan magnitude gempa bumi. Selain itu juga akan dipasang warning receiver yang dipasang pada layar 50 inch di terminal bandara.

“Sistem generasi terbaru yang dipasang dalam layer 50 inci yang akan ditempatkan di terminal agar semua pengunjung di bandara segera tahu (bila terjadi guncangan), mengetahui titik pusat di mana, magnitude berapa, potensi tsuami atau tidak dalam waktu 2-5 menit,” paparnya.

Dwikorita menyebut saat ini sudah dipasang beberapa alat, baik pengukuran curah hujan, seismograf (alat pencatat gempa) dan pemasangan peralatan khusus berupa intensity meter guna mengukur tingkat guncangan gempa dalam skala MMI.

“Kami pasang di terminal (bandara) agar orang kalau ada gempa tahu tingkat guncangannya sekian,” imbuhnya.

Airport Planning Safety Health Enviroment Quality & Risk Management Senior Manager YIA, Bambang Triyono mengatakan saat ini sudah terpasang satu satu display alat pegukur gempa di area check in bandara.

“Dari hasil (pertemuan) dengan Ngarso Dalem kalau bisa displaynya jangan cuma satu tetapi harus ada beberapa display,” ungkapnya.

Bambang mengungkap masukan dari Sultan untuk memasang lebih banyak display terutama di area terminal bandara. Hal ini seperti yang dilakukan negara Jepang yang rawan gempa sehingga memakan sedikit korban.

“Biar masyarakat bisa tahu. Di Yogyakarta diminta seperti itu. Alat dipasang di display terbuka. Jadi akan kita evaluasi titik-titik mana supaya masyarakat itu tau jadi kalau ada gempa tidak hanya goyangan yang diketahui tapi kekuatan gempa dan potensi tsunaminya,” ungkapnya. (C-4)

Read previous post:
Penjualan Olahan Cabai Turun Drastis

Close