Pentingnya Digitalisasi Budaya di Tengah Pandemi Covid-19

MERAPI – WULAN YANUARWATI
Ngobrolin Jogja #4 bertopik Digitalisasi Pemerintah Daerah, Selasa (10/8) di Bangsal Wiyatapraja Kompleks Kepatihan.

YOGYAKARTA (MERAPI) – Meskipun di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Daerah (Pemda DIY) melalui Paniradya Kaistimewan dan juga Kraton Yogyakarta berupa melakukan digitalisasi budaya agar dapat diakses oleh masyarakat dengan mudah sehingga tidak hilang begitu saja. Hal ini dibahas dalam sesi Ngobrolin Jogja #4 bertopik Digitalisasi Pemerintah Daerah, Selasa (10/8) di Bangsal Wiyatapraja Kompleks Kepatihan.

Selain itu, digitalisasi budaya diperlukan untuk menyelamatkan ribuan aset budaya yang ada di Yogyakarta.
Paniradya Pati, Ari Eko Nugroho mengatakan pentingnya transformasi budaya dalam bentuk digital meskipun di tengah pandemi Covid-19. Apalagi sebetulnya nilai luhur budaya sudah ada dan melekat sejak dulu melalui bahasa lisan.
“Nilai luhur sudah ada dari dulu, mengenal adanya bahasa dengan tradisi lisan dimana masih menjadi hanya ‘katanya’ orang tua dan sebagainya,” ungkapnya pada sesi Ngobrolin Jogja #4 bertopik Digitalisasi Pemerintah Daerah dan Kraton Yogyakarta, Selasa (11/8) di Kompleks Kepatihan.

Bahasa lisan yang tidak diceritakan dan dituliskan kembali berpotensi menguap dan hilang begitu saja. Dalam hal ini, digitalisasi merupakan salah satu upaya menyelamatkan hal itu.
“Dengan metode sekarang, pola ditulis dan (dibuat) digital akan menjadi menarik sehingga nilai luhur yang kemarin memang ada ternyata mampu menjadj bagian yang mempengaruhi nilai luhur yang ada di DIY,” jelasnya.

Meski begitu, tidak semua lantas digitalisasikan, perlu upaya diskusi dan penyederhanaan bagian mana yang harus dipublikasikan dan tidak
“Nggak mudah. Perlu didiskusikan mana saja yang dipublish. Mulai dari yang sederhana dulu,” imbuhnya.

Penghageng Tepas Tandha Yekti, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu mengatakan dalam upaya digitalisasi, Kraton Yogyakarta telah membentuk divisi Tepas Tanda Yekti pada 2012 yang bertugas mendokumentasikan kegiatan Kraton Yogyakarta dan sebagai sumber literatur akurat bagi kalangan yang membutuhkan.
“Jobdesk (tugasnya) dokumentasi dan IT. Kerjanya seperti Kominfo dari versi kecil sebagai sumber informasi publik, salah satunya dengan medsos Kraton,” ungkapnya.

“Website Kraton Yogyakarta harus bisa menjadi rujukan yang valid sehingga kami harus hati-hati,” imbuhnya.
Saat ini tengah pandemi Covid-19, dengan aktivitas yang dibatasi, Tepas Tanda Yekti sedang berupaya mengumpulkan dan mengarsipkan kembali database yang ada. Mengingat selama ini Kraton Yogyakarta didominasi paper based.
“Kraton sangat paperbased. Tugasnya tanda yekti mentransfer paperbased ke computer based. Foto yang dulu tercecer jangan smp tercecer lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, kegiatan Kraton Yogyakarta di tengah pandemi Covid-19 juga dikurangani dan diprioritaskan untuk kegiatan yang sifatnya wajib dan tidak bisa digeser.
“Segala kegiatan yang tidak wajib di offkan dulu, juga abdi dalem karena sudah sepuh kan riskan (beresiko) sehingga sowan dan segala macam dialternafikan dulu,” terangnya.

Meski begitu, Kraton Yogyakarta dituntut untuk tetap eksis di tengah pandemi, sehingga digitalisasi menjadi alternatif terbaik. Masyarakat tetap bisa mengakses informasi melalui website dan media sosial.
“Kraton tetap eksis melakukan kegiatan di tengah pandemi, meskipun akhirnya ekstra karena kemana-mana bawa masker dan segala macam (peralatan sesuai protokol kesehatan Covid-19),” ungkapnya. (C-4)

Read previous post:
DBD di Gunungkidul Hingga Akhir Juli 900 Kasus, 4 Meninggal

WONOSARI (MERAPI) - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul tahun ini masih cukup tinggi dan memasuki

Close