Pasangan Subur Diimbau Tunda Kehamilan Selama Pandemi

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Pasangan usia subur diimbau untuk menunda kehamilan di masa pandemi Covid-19. Pasalnya perempuan yang hamil berada dalam kondisi daya tahan tubuh turun, sehingga bisa berpotensi kehamilan berisiko saat masa wabah virus corona.

“Kami imbau masyarakat untuk menunda kehamilan karena orang hamil secara alami kondisi daya tahan tubuhnya turun. Dengan kondisi pandemi, bisa terjadi kehamilan berisiko,” kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (KB) Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, Senin (13/7).

Ia menyatakan, dalam kondisi wabah Covid-19, kondisi tubuh harus sehat dan daya tahan tubuh terjaga agar bisa terhindar dari virus itu. Masyarakat juga diimbau tidak ke pelayanan kesehatan jika tidak mendesak sakit. Sedangkan bagi perempuan yang hamil harus memeriksakan rutin ke pelayanan kesehatan, sehinga bisa berisiko bagi kesehatan.

“Walapun di Kota Yogya semua layanan kesehatan sudah memakai protokol Covid-19, sebaiknya dihindari jika tidak perlu mendesak. Padahal perempuan hamil harus rutin kontrol. Jadi sebaiknya kehamilan ditunda dulu,” tambahnya.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) menyarankan penundaan kehamilan bagi pasangan subur usia muda pada perempuan usia 21 tahun. Tapi BKKBN tidak menyarankan penundaan kehamilan bagi perempuan yang usianya sudah 34 tahun karena usia itu dinilai sudah terlalu tua dan lebih berisiko bagi kesehatan ibu dan janin.

“Kami lakukan penyuluhan secara virtual ke masyarakat untuk menunda kehamilan dan tidak lupa ber-KB. Kami juga jemput bola KB ke pasangan usia subur yang menggunakan pil KB dan kondom. Jangan sampai putus KB,” urai Emma.

Dia menjelaskan, pasangan usia subur dapat menghubungi kader KB RT/RW atau Petugas KB di wilayah masing-masing untuk diambilkan pil KB dan kondom di fasilitas kesehatan setempat. Tapi itu hanya untuk pasangan yang sudah menjadi peserta KB. Pil dan kondom akan diantarkan ke rumah pasangan usia subur. Sedangkan untuk pasangan usia subur yang menggunakan IUD, implan, MOP, MOW dan suntik dapat dilayani di fasilitas kesehatan di Kota Yogyakarta.

Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Yogyakarta mencatat sampai Mei 2020 jumlah peserta KB modern ada 24.422 dan jumlah KB tradisional 2.725. Sementara sampai Mei 2020 angka kehamilan di Kota Yogya ada 1.185 dengan 35.341 pasangan usia subur. Pada tahun 2019, terdapat 1.370 kehamilan dengan jumlah pasangan usia subur 38.951.

“Selama pandemi ini angka kehamilan di Kota Yogya cukup stagnan. Tidak ada kenaikan maupun penurunan kehamilan yang signifikan,” jelasnya. (Tri)

Read previous post:
Peserta Didik Kembali Belajar dari Rumah, Jaringan Internet Gratis Diperluas

Close