Pemda DIY Wajib Prioritaskan Ketahanan dan Ketersediaan Pangan, Hasil Panen Petani DIY Harusnya Diserap Warganya Sendiri

MERAPI – WULAN YANUARWATI
Diskusi persediaan dan ketahanan pangan, Sabtu (4/7) di PT Tarumartani.

YOGYA (MERAPI) – Pemda DIY wajib prioritaskan ketersediaan dan ketahanan pangan sebagai kebutuhan primer yang perlu dikelola secara serius. Hasil panen yang dihasilkan petani di DIY harusnya diserap oleh warganya sendiri, bukan malah mengambil hasil pertanian daerah lain. Ditambah kontrol terhadap harga terendah perlu dilakukan agar tidak ‘membunuh’ petani dan menguntungkan distributor saja.

Dalam hal ini, PT Tarumartani sebagai BUMD yang sebelumnya hanya mendapatkan perintah untuk menyimpan cadangan pangan, mengatakan kesiapan dan kesanggupan untuk membangun kedaulatan pangan di DIY dari hulu ke hilir secara terintegrasi.

Direktur Utama PT Tarumartani, Nur Ahmad Affandi mengatakan gagasan dan kesiapannya. Apalagi saat ini BUMD yang bergerak pada produksi pembuatan cerutu tersebut sudah mapan secara core business.

“Kalau core bisnisnya sudah mapan.
Kami baru menyatakan kesanggupan sekarang,” tegasnya, Sabtu (4/7) pada diskusi ketersediaan dan ketahanan pangan di Kantornya.

Nur mengatakan dalam pengelolaan ketahanan pangan, Pemda DIY perlu membuat regulasi yang jelas dan pasti. Kolaborasi dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) perlu dilakukan agar tercapai kesejahteraan masyarakat yang terlibat di dalamnya.

“Jadi kalau kami diserahi tugas ya harus ada regulasi yang memastikan bahwa pasar itu harus menggunakan hasil industri tani yang ada di DIY,” jelasnya.

Nur menambahkan hasil pertanian para petani di DIY paling tidak diserap oleh pasar yang kewenangannya ada di Pemda seperti kebutuhan untuk Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau kebutuhan Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Nah kalau itu terintegrasi saya kira semua uang yang beredar aman, hasil pertanian mulai dari proses on farm sampai off farm terkontrol dengan baik dan endingnya terpenuhinya kebutuhan pangan DIY,” imbuhnya.

Lebih lanjut dicontohkan Nur saat ini DKI Jakarta telah sukses melakukan integrasi ketersediaan dan ketahanan pangan. Padahal DKI Jakarta seperti yang kita ketahui hanya memiliki pasar saja, tidak memiliki sumber penyedia bahan dalam hal ini petani beserta lahan pertaniannya.

“Lha di Jogja itukan punya pasar, punya petani. Pasarnya butuh ketersediaan dan butuh harga yang terjangkau kemudian petaninya butuh hasilnya bagus dan diserap,” ungkapnya.

Agar diketahui, saat ini PT Tarumartani memiliki empat gudang dengan kapasitas masing-masing gudang sebanyak 600 ton. Adapun jumlah simpanan beras saat ini sebanyak 326 ton beras standar medium dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten Sleman dan Pemerintah Kota Yogyakarta. Artinya kapasitas gudang di Tarumartani masih sangat mampu untuk menampung simpanan.

Adapun jumlah kebutuhan beras di Provinsi DIY sebanyak 1360 ton per bulan dan dapat terpenuhi melalui hasil produksi dari petani di DIY itu sendiri.

“Dari luasan lahan dikali produktifitas hasil tani mestinya cukup,” imbuh Nur.

Simpanan beras di gudang Tarumartani.

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD DIY, Nurcholis Suharman mendorong Tarumartani dalam kesiapan pengembangan dan ketahanan pangan di DIY. Ia juga berharap peranan Tarumartani bisa diperbanyak dalam pengembangan produk lain, apalagi saat ini core business sudah terpenuhi.

“Sehingga perlu ada tambahan kewenangan lagi khusus Tarumartani untuk mengembangkan ke produk lain bukan hanya beras,” ungkapnya.

Selanjutnya pihaknya akan mendorong Pemda DIY agar dapat meningkatkan peran Tarumartani dalam pengelolaan dan ketahanan pangan di DIY, tentu dengan memperhatikan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lain agar tidak terjadi tumpang tindih tugas.

“Harus ada kayak pergub lah,” imbuhnya. (C-4).

Read previous post:
TUMENGGUNG POLENG DANUPAYA (12-HABIS) – Akhirnya Menyerah dan Menjadi Bandan

Ki Buyut Wanadadi segera meloncat keluar dari mulut goa diikuti oleh Panembahan Wiryo. Tanpa basa-basi lagi Ki Buyut Wanadadi segera

Close