Yogya Tak Terjadi Baby Boom

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Kenaikan angka kehamilan (baby boom) masa pandemi Covid-19 di berbagai daerah di Indonesia juga menjadi kekhawatiran Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY. Pasalnya intensitas pertemuan pasangan suami istri di rumah selama work from home (WFH) berbanding lurus dengan kenaikan angka kehamilan.

Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Ukik Kusuma Kurniawan mengaku khawatir terhadap kenaikan tersebut. Meski begitu Ukik optimis tidak terjadi kenaikan kehamilan di daerahnya.

“Kita prihatin situasi pandemi ini, mewaspadai adanya kekhawatiran baby boom. Alhamdulilah dengan data terekam tingkat nasional sudah direkap bahwa kesertaan keluraga berencana (KB) masih stabil tidak turun sehingga kita hampir bisa meyakini baby boom kemungkinan besar tidak terjadi,” ungkap Ukik di Kepatihan, Senin (29/6).

Total pasangan subur di Yogyakarta mencapai angka 600 ribu, 74 persen di antaranya adalah peserta KB aktif sehingga diprediksi tidak akan ada baby boom. Angka ini setidaknya harus dipertahankan agar tidak terjadi kenaikan kehamilan.

“Capaian peserta KB aktif jangan sampai drop out (turun). Yogya masih stabil turun 0,008 persen. Tidak sampai 1 persen. Stabil tidak turun,” imbuhnya.

Ukik menegaskan, peserta KB aktif tidak boleh turun sesuai dengan kebijakan Nasional. Angka kelahiran di DIY yang mencapai 42 hingga 43 ribu setiap tahunnya harus dipertahankan, sebab bila tidak maka akan terjadi ledakan kelahiran. Menurutnya, kelahiran di Yogyakarta tidak boleh mencapai angka 43 ribu sebelum akhir tahun 2020.

“Rata-rata kelahiran di DIY pertahun adalah 42-43 ribu kelahiran bayi di Provinsi DIY. Tinggal cek sekarang,” katanya.

Ukik juga menjelaskan dengan data ini maka peserta KB usia subur sejauh ini terlindungi dari kehamilan yang tidak direncanakan. Sebab kehamilan tidak direncanakan dapat menimbulkan masalah baru, baik masalah kesehatan maupun kesejahteraan hidup.

“Mohon maaf kalau ada kehamilan tidak direncanakan itu dampaknya besar dari yang mungkin adanya upaya untuk menggagalkan kehamilan (aborsi) sampai penelantaran bayi ketika dilahirkan sampai menjadi ancaman stunting itu yang coba kita cegah,” jelasnya. (C-4)

Read previous post:
ORANGTUA SISWA PROTES PPDB-Kecewa Anak Berprestasi Tak Bisa Masuk Sekolah Negeri

Close