Corona Bikin Bakul Beringharjo Merana

VIRUS corona yang semakin meluas di Indonesia dan himbauan untuk berada di rumah mulai berdampak ke ekonomi masyarakat. Di Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta misalnya, sebagian besar pedagang pakaian atau fesyen mulai tutup. Hanya beberapa pedagang pakaian yang terlihat masih bertahan membuka kios maupun lapaknya. Bertahan dan berharap virus corona segera berlalu.

Beberapa pedagang fesyen di Pasar Beringharjo sisi barat terlihat duduk dan saling mengobrol pada Jumat (27/3). Sebagian pedagang lainnya merapikan dagangan baju-baju batik. Tak ada kesibukan melayani pembeli. Padahal saat libur panjang area Pasar Beringharjo di sisi barat itu selalu penuh pengunjung. Sepekan lalu beberapa pembeli masih terlihat datang silih berganti. Tapi kini tak ada pembeli maupun pengunjung yang berkeliling mencari oleh-oleh baju atau daster batik.

“Dampaknya sangat terasa. Setahun ini omzet pedagang menurun karena krisis global. Ditambah virus corona ini, kami ambegane ilang (kehilangan nafas),” kata Ketua Paguyuban Pasar Beringharjo Pager Raharjo Ujun Junaedi, akhir pekan kemarin di Pasar Beringharjo.

Dia menuturkan dampak virus corona terharap aktivitas jual beli feysen terasa sejak 21 Maret 2020. Pengunjung dan pembeli di Pasar Beringharjo barat terus berkurang sampai ini cenderung menghilang. Menurutnya dalam masa saat ini sudah tidak ada omzet yang didapat pedagang fesyen di Pasar Beringharjo. Dengan kondisi tersebut sebagian besar pedagang memilih menutup kios maupun lapaknya.

“Kami sudah bertahan selama dua minggu ini. Tapi tetap tidak ada pengunjung dan pembeli. Kami lakukan aktivitas jualan pun sudah tak ada pembeli, Makanya teman-teman hampir semua tutup,” papar Ujun yang juga berjualan produk fesyen di Pasar Beringharjo.

Dia menyatakan pilihan menutup sementara lapak dan kiso itu sudah dikoordinasikan dengan paguyuban dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Selain kondisi pasar yang sepi juga untuk mencegah persebaran virus corona. Termasuk mendukung arahan Gubernur DIY sekaligus Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.

“Daripada nanti buka, risiko penularan virus sangat berbahaya. Dengan tidak buka ini juga mendukung arahan <I>Ngarsa Dalem<P> untuk tetap di rumah dan pasrah ini adalah musibah dari Allah. Sambil berdoa di rumah dan bersabar. Semoga musibah ini segera berlalu,” ucapnya. ‘

Pihaknya juga berharap, nantinya ada kegiatan pemulihan untuk para pedagang agar bangkit kembali. Termasuk realisasi rencana pemerintah pusat terkait dampak ekonomi akibat virus corona. Misalnya penundaan pembayaran kredit bagi pelaku usaha seperti pedagang di pasar. Itu karena para pedagang di Pasar Beringharjo memiliki beban pinjaman ke lembaga keuangan.

Meski demikian diakuinya pedagang kebutuhan pokok di Pasar Beringharjo tetap berjualan. Terutama pedagang jamu dan bahan herbal banyak dicari masyarakat. oleh sebab itu pihaknya tetap mendukung pedagang kebutuhan pangan yang tetap berjualan karena untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat harus beraktivitas di rumah,

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta Yuniato Dwisutono mengatakan, mengikuti arahan kebijakan dari pemerintah pusat untuk kebijakan mengatasi dampak virus corona pada sektor industri dan perdagangan. Misalnya bantuan langsung tunai yang disampaikan pemerintah pusat.

“Sementara ini kami ikuti kebijakan dari pemeirntah pusat. Sudah ada program yang disampaikan, tetap implementasinya belum tahu seperti apa,” imbuh Yunianto. (Tri)

Read previous post:
MERAPI-AMIN KUNTARI Aktivitas Terminal Domestik YIA jelang operasi perdana.
YIA Resmi 24 Jam, Bandara Adisutjipto Beroperasi Pukul 05.00 Sampai 18.00 WIB

Close