Pola Pengasuhan Anak di Era Banjir Informasi

SEBAGIAN besar kehiduapan masyarakat kini tidak bisa lepas dari telepon selular dengan akses internet. Termasuk dalam pola pengasuhan orangtua kepada anak. Tak sedikit orangtua yang menggunakan telepon seluler sebagai media untuk bermain anak. Namun yang harus diperhatikan tidak semua informasi maupun isi di dunia internet yang diakses melalui ponsel sesuai kebutuhan anak atau ramah anak.

“Faktanya pengasuhan kini saat anak nangis orangtua ngasih hiburan handphone misalnya nonton yutub. Anak-anak bahkan kadang lebih lihai memainkannya,” kata Anggota Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Yogyakarta Bidang Mediasi dan Pengaduan Hari Muryanto, dalam diskusi di Balaikota akhir pekan kemarin.

Namun pihaknya mengingatkan isi dari internet sangat beragam dan mudah diakses. Ada yang tidak ramah untuk anak-anak. Misalnya laman yang memuat pornografi dan ajaran kekerasan yang diselipkan lewat permainan game online. Sedangkan mendapatkan informasi yang layak atau ramah anak adalah salah satu hak sipil anak.

“Sekarang di era banjir informasi ini menjadi tantangan kita bersama. Hak sipil anak salah satunya berhak mendapatkan informasi yang layak,” imbuhnya.

Dengan kondisi itu perlu adanya perlindungan yang lebih untuk hak sipil anak. Menurutnya cara untuk memenuhi hak sipil anak mendapatkan informasi yang layak adalah memfungsikan kembali peran keluarga dan meningkatkan literasi masyarakat. Orang tua dan keluarga memiliki peran membantu menyaring informasi yang layak untuk anak.

“Perkuat kembali ketahanan keluarga. Tingkatkan literasi dan bangun kapasita masyarakat untuk memilih dan memilah informasi yang layak untuk anak. Kontrol orantua terhadap informasi yang diakses anak juga perlu ditingkatkan. Misalnya harus didampingi dan diarahkan saat mengakses internet di handphone,” terang Hari.

Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Yogyakarta Edy Muhammad mengatakan untuk pemenuhan hak-hak anak diperlukan partisipasi semua pihak. Mengingat anak dalam kesehariannya berada di tiga lingkungan yakni keluarga, sekolah dan lingkungan.

“Pada dasarnya keluarga, sekolah dan lingkungan harus aktif mendukung untuk pemenuhan hak-hak anak, sehingga terwujud Kota Layak Anak. Jika ada anak-anak yang kurang perhatian dari keluarga, maka kami harap lingkungan sekitar memberikan perhatian,” papar Edy.

Menurutnya perhatian lingkungan terhadap anak penting karena jika keluarga acuh, maka anak akan mencari perhatian di tempat lain. Terutam pada anak-anak yang memiliki energi berlebih, diharapkan dapat diberikan perhatian oleh lingkungan agar tidak mengarah ke hal-hal negatif.

Untuk mewujudkan Kota Layak Anak di tahun 2020, pihaknya memperkuat data primer dan pendukung untuk tahap awal penilaian. Dia menjelaskan penilaian administrasi harus didukung bukti kuat dan verifikasi lapangan. Dari hasil evaluasi di tahun 2019, Yogyakarta memiliki kelemahan usai dilakukan verifikasi lapangan. Penilaian berbalik 180 derajat saat dilakukan verifikasi di lapangan oleh tim penilai karena banyak program yang belum didukung oleh bukti-bukti kuat. Akibatnya, Kota Yogyakarta pun harus puas memperoleh predikat pada kategori Nindya. Pada tahun 2020 diharapkan bisa meraih kota layak anak kategori utama. (Tri)

MERAPI-TRI DARMIYATI
Kepala DPMPPA Kota Yogyakarta Edy Muhammad dan Komisoner KPAD setempat menjelaskan terkait hak anak dan kota layak anak.

Read previous post:
Elang Ular Bido Bernama Sugeng dan Wilujeng Dilepasliarkan di Puncak Gondang

WATES (HARIAN MERAPI) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melepasliarkan sepasang burung elang ular bido (spilornis cheela) jantan dan

Close