Menuju Smart City, Yogya Diingatkan Olah Manajemen Risiko

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Kota Yogyakarta selama beberapa tahun ini menjadi salah satu dari 100 kota kabupaten sasaran program smart city oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Pelaksanaan program smart city di Kota Yogyakarta selama dua tahun ini dinilai ada kemajuan dan peningkatan. Namun dari hasil evaluasi program smart city secara umum, semua kota kabupaten belum memiliki manajemen risiko jika ada kendala dan gangguan program.

Menurut Pendamping smart city Kemeterian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI Adi Mulyanto selama pendampingan program smart citydi empat daerah di Semarang, Yogyakarta, Magelang dan Yogyakarta lagi, secara penilaian pribadi, smart city di Yogyakarta memiliki kemajuan dan peningkatan.

“Penilaian secara informal dengan sebagian masyarakat Yogya, menyatakan ada manfaat dari layanan smart city yang terintegrasi. Kami apresiasi Pemkot Yogya,” kata Adi dalam tinjauan lapangan evaluasi implementasi program Smart City, di Balaikota, Kamis (5/3).

Dia mengatakan fokus program smart city adalah tidak hanya memudahkan dengan penggunaan teknologi. Tapi menyelesaikan persoalan dan tantangan dengan cara yang cerdas. Selain itu memanfaakan sumber daya yang dimiliki untuk dioptimalkan. Dia menilai Pemkot Yogyakarta sudah bisa mendefinisikan program smart city sesuai tujuan dan fokus tersebut.

“Di beberapa wilayah program smart city ada masyarakat yang tidak tahu dengan program itu di kota dan kabupatennya. Ini persoalan sosialisasi perlu agar masyarakat tahu persis dan memanfaatkannya secara maksimal. Makanya dalam evaluasi tahun ini kami menanyakan langsung ke masyarakat sejauh mana dampak smart city,” terangnya.

Pihaknya juga menyoroti terkait menajeman risiko program smart city yang belum dimiliki kota dan kabupaten. Dia berpendapat manajemen risiko penting untuk menjamin pelaksanaan program smart city. Untuk itu pihaknya akan mendampingi kota dalam menyusun manajemen risiko program smart city.

“Hasil evaluasi pelaksanaan smart city hampir semua kabupatan kota belum punya manajem risiko jika program ada kendala-kendala. Perlu mengidentifiaksi hal-hal yang menjadi gangguan pelaksanaan program, menganalias kemungkinan skala kejadian gangguan dan dampaknya,” jelas Adi.

Sementara itu Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyampaikan salah satu program Smart City di Yogyakarta adalah aplikasi Jogja Smart Service (JSS). Melalui aplikasi tersebut mengintegrasikan pelayanan publik. Dia menegaskan dalam penggunaan teknologi akan memudahkan aparatur sipil negara dalam bekerja.

“Tapi dalam perspektif teknologi harus memiliki arah agar semakin fokus dengan target pembangunan Kota Yogyakarta. Smart City pada dasarnya teknologi, tapi yang penting adalah perubahan mindset masyarakat,” ucap Heroe. Sedangkan Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Yogyakarta Tri Hastono, menjelaskan tahun ini smart city.

Sedangkan Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Yogyakarta Tri Hastono, menjelaskan tahun ini smart city masuk dalam tahap internalisasi untuk menciptakan dampaknya ke masyarakat. JJS memberikan pilihan pelayanan publik yang mudah bagi masyarakat

“Karena tujuan smart city agar pelayanan publik menjadi sederhana, efektif dan efisien. Masyarakat tidak perlu datang ke sejumlah kantor di balaikota untuk mengakses layanan tertentu. Cukup melalui telepon selular mereka dengan memilih menu layanan di JSS,” pungkas Tri Hastono. (Tri)

Read previous post:
MUNCUL ISU PEMBACOKAN HINGGA PENEMBAKAN-Minta Korban Melapor, Kapolres Janji Usut Tuntas Bentrok Driver Ojol-Debt Collector

DEPOK (MERAPI)- Usai bentrokan di wilayah Babarsari, banyak isu yang beredar jika beberapa driver ojek online dibacok. Bahkan ada yang

Close