Kisah Nugraha Selama Observasi di Natuna, Makan Empat Sehat Lima Sempurna

MAHASISWA di Cina dan sudah menjalani observasi di Pulau Natuna, dan kini kembali ke Yogya salah satunya adalah Nugraha Krisdiyanta (46). Nugraha mengambil S3 Linguistik di Central China Normal University di Wuhan, Provinsi Hubei.

Nugraha yang merupakan dosen di sebuah sekolah tinggi bahasa asing di Yogyakarta itu mengungkapkan rasa bersyukur bisa kembali ke kampung halaman.

“Bahagia akhirnya bisa berkumpul dengan keluarga,” bukanya saat berbincang dengan Merapi, Minggu (16/2).

Bapak dua anak itu berkisah saat menjalani masa obversasi di Natuna bersama 237 WNI dari Wuhan. Menurutnya terdapat sejumlah aktivitas yang diwajibkan untuk dilakukan seperti pemeriksaan suhu tubuh dan kegiatan olahraga. Selebihnya, kegiatan banyak dihabiskan dengan bersantai dan sharing cerita antar peserta maupun petugas dari pemerintah.

“Kami langsung dimasukkan kegiatan biasa harian yang terjadwal. Seperti setelah bangun pagi harus olahraga, makan, dilanjutkan cek suhu. Selebihnya kegiatan bebas seperti main kartu, karaoke, pingpong. Ada sesi perkenalan seperti sharing antar peserta, pengenalan Kemenkes, perwakilan KBRI juga,” katanya.

Selama diobservasi, ia dan rekan-rekannya selalu diberikan multi vitamin yang harus dikonsumsi setiap harinya. Selain itu, makanan yang dikonsumsi pun, diungkapkan Nugraha, selalu memenuhi kriteria 4 sehat 5 sempurna. “Setiap hari kami dikasih multivitamain, termasuk vitamin C vitamin B Complex. Makanannya juga dibuat 4 sehat 5 sempurna, terutama selalu ada buahnya juga,” kisahnya.

Nugraha yang kini sudah berkumpul dengan keluarga merasa bahagia setelah menjalani observasi dan dipastikan tidak terjangkit Corona. Ia berharap, masalah ini cepat selesai sehingga ia dan mahasiswa lainnya bisa segera kembali melanjutkan pendidikannya.

“Pengumanan (kuliah kembali) akan diumumkan kemudian, tapi kemudiannya kapan belum tahu. Harapan kami semoga lebih cepat teratasi, kami juga yakin pemerintah Tiongkok mampu mengatasi itu,” ujarnya.

Ia juga berbagi kisah sat masih di Wuhan. Kala itu suasana di Wuhan sangatlah sepi. Selain karena bertepatan dengan libur musim dingin serta Hari Raya Imlek, munculnya virus Corona juga membuat wilayah Ibu Kota Provinsi Hubei itu kian sepi.

“Kalau waktu itu di kota kami libur musim dingin, jadi banyak orang yang pulang terutama mahasiswa dan bertepatan dengan libur Imlek. Ya kotanya memang sepi, ketika imlek itu semua orang pulang ke kampung masing-masing. Ditambah ada virus Corona itu tambah sepi,” ungkapnya.

Saat itu, sejumlah mahasiswa yang masih bertahan, hanya dihimbau untuk tidak meninggalkan asrama. Jika ada keperluan yang mendesak, WNI itu boleh bepergian namun harus menghindari kawasan kerumunan dan kembali ke asrama harus selalu mencuci tangan hingga bersih dengan sabun yang sudah disediakan dari pihak kampus.

“Tidak ada semacam larangan untuk keluar. Kami hanya dihimbau tetap di asrama kecuali kalau ada hal yang penting silakan untuk keluar. Sebisa mungkin menghindari kerumunan terutama di stasiun kereta. Kita juga memakai masker, tapi hanya masker biasa tidak yang N95 itu,” tandasnya.

Saat berada di kampus, mahasiswa pun diminta untuk selalu melaporkan kondisi suhu tubuh kepada salah satu petugas yang diambil dari salah satu mahasiswa. Jika ada yang merasa ada gejala flu atau bahkan radang tenggorokan, mahasiswa itu akan dibawa ke rumah sakit kampus.

“Kalau petugas tidak ada karena dipusatkan di rumah sakit semua. Jadi di kampus itu diambil satu dari mahasiswa untuk membantu tugas dosen mengurusi mahasiswa selama di kampus. Jadi tiap pagi kami wajib melaporkan suhu tubuh berapa, kalau ada yang merasa tidak enak badan silakan melapor, nanti akan diajak periksa di rumah sakit kampus, kalau butuh penanganan lebih lanjut, nanti akan dibawa ke rumah sakit yang lebih besar,” ujarnya.

Dijelaskan Nugraha, ia tak pernah kehabisan stok makanan selama berada di asrama. Bahkan beberapa toko di sekitar asrama masih buka dan tidak pernah kosong stok makanan maupun bahan pangan.

“Toko-toko di sekitar kampus masih buka, saat kita mau beli atau stok makanan itu tetap tersedia. Yang penting saat kita kembali ke asrama, makanan atau bahan pangan itu selalu dicuci sampai bersih,” jelasnya.

Pengalaman unik yang dirasakan Nugraha bersama mahasiswa lain selama di Corona mewabah di Wuhan adalah tiduran di jalan raya. Kondisi kota yang sangat sepi dan hanya ada 2 sampai 3 kendaraan yang melintas, membuat ia dan mahasiswa lain bebas berswafoto di jalan raya.

“Kalau kami itu harian itu tidak bisa kongkow di tengah jalan, karena memang disana ramai lalu lintasnya. Karena ada ini, bahkan kami bisa tiduran di jalan, karena sepi, hanya 1-3 mobil lewat. Bisa foto-foto seperti orang desa yang main ke kota,” terangnya sembari tertawa.

Soal disemprot disinfektan saat turun dari pesawat di Batam? “Kami merasa biasa-biasa saja disemprot desinfektan, karena di Cina mereka menyemprot itu ke seluruh kota, Kalau ketemu di jalan kemungkinan kita juga bakal disemprot. Disemprotnya di Batam, lalu kita dibawa dengan pesawat 2 boeing dan 1 hercules ke Pulau Natuna,” imbuhnya. (C-8)

Read previous post:
DARI NATUNA TIBA DI YOGYA-Dinkes DIY: Mereka Sehat, Jangan Dikucilkan

DEPOK (HARIAN MERAPI) - Lima mahasiswa dari 238 WNI yang telah menjalani observasi di Pulau Natuna sejak 1 Februari hingga

Close