Berkat Rekayasa Iklim, Wader Pari Bisa Bereproduksi Lebih dari Dua Kali

FAKULTAS Biologi UGM dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY sepakat untuk dapat bekerjasama menjaga lestarinya ikan wader pari. Jenis ikan ini cocok diolah menjadi aneka produk olahan seperti dibuat kripik, abon, sambal maupun cukup digoreng.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dilakukan langsung oleh Dekan Fakultas Biologi UGM Prof Dr Budi Setyadi Daryono M Agr Sc dan Kepala DKP DIY Ir Bayu Mukti Sasongka MSi di Gedung B Fakultas Biologi UGM, awal pekan ini. Acara dimeriahkan pula dengan bazar olahan wader pari serta makan bersama dengan lauk seperti kripik, sambal dan abon wader pari.

Tak kalah penting ada pemaparan seputar ikan wader pari oleh Ketua Tim Aquatic Research Dr Bambang Retnoaji MSc. Dalam paparannya antara lain dijelaskan mengenai alasan mengapa tim ini memilih wader pari untuk dikembangkan dan dikelola. Antara lain, adanya keresahan mengenai rendahnya produksi wader pari di DIY, sehingga menggugah para peneliti yang tergabung dalam tim ini untuk melakukan penelitian mengenai problematika pemijahan dan pembudidayaan wader di alam.

“Akhirnya diketahui bahwa wader pari hanya berproduksi dua kali dalam setahun, dikarenakan iklim yang sesuai untuk reproduksi hanya dua kali saja. Maka, para peneliti mencoba untuk melakukan rekayasa iklim di laboratorium, sehingga wader dapat bereproduksi lebih dari dua kali dalam setahun,” jelas Dr Bambang.

Ditambahkan, saat ini pemijahan wader dilakukan dengan pemijahan indoor dan pemijahan semi-indoor. Pemijahan indoor adalah pemijahan skala laboratorium dan pemijahan semi-indoor dilakukan sebagian di laboratorium dan sebagian di alam. Saat ini produksi wader yang dikembangkan oleh tim Aquatic Research telah mencapai lebih dari 30 kg sekali panen.

“Keberhasilan pembudidayaan ini perlu disebarluaskan, sehingga masyarakat dapat ikut serta dalam pengelolaan wader pari dengan menggunakan teknologi tepat guna. Keberhasilan dalam budidaya wader ini juga merupakan keberhasilan dalam konservasi wader sehingga wader pari dapat terus lestari. Dari bibit sampai ukuran konsumsi butuh waktu antara dua sampai tiga bulan,” urainya.

Adapun dalam naskah Perjanjian Kerja Sama beberapa poin yang disepakati, antara lain mengenai rekayasa produksi dan siklus keberlangsungan produksi, penanganan benih dan stok serta evaluasi, pengkayaan dan persiapan adopsi program untuk kerjasama dengan investor. (Yan)

Read previous post:
Kulonprogo Targetkan Cetak Sawah Baru 50 Hektare

WATES (HARIAN MERAPI) - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulonprogo tahun ini menargetkan dapat mencetak sawah baru seluas 50 hektare

Close