Waspada Cuaca Buruk, Siapkan Logistik Hingga Prioritas Evakuasi Lansia

HUJAN disertai angin kencang yang terjadi beberapa pekan ini berpotensi memicu terjadinya bencana. Terutama di bantaran sungai. Terkadang saat bencana masyarakat panik dan menyelematkan diri sendiri. Padahal ada sebagian masyarakat yang aksesnya terbatas dan perlu mendapatkan perhatian yakni para lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas.

“Untuk kewaspadaan dini cuaca esktrem, khususnya di bantaran sungai dimungkinkan terjadi bencana. Jika terjadi bencana lansia dan penyandang disabilitas didahulukan evakuasinya,” kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Yogyakarta Agus Sudrajat, Minggu (12/1).

Berdasarkan data Dinsos Kota Yogyakarta, terdapat sekitar 5.000 lansia tidak diproduktif dan sekitar 3.400 penyandang disabilitas. Menurutnya jika terjadi bencana di tiga sungai besar di Kota Yogyakarta yakni Sungai Code, Winongo dan Gajah Wong, dimungkinkan berkisar 20 sampai 30 persen lansia dan penyandang disabilitas bisa terdampak.

“Lansia dan penyandang disabilitas perlu didahulukan evakuasinya karena akses gerak mereka terbatas,” ujarnya.

Dinsos juga sudah meminta Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk waspada jika terjadi bencana. Dia menyeut ada sekitar 57 orang Tagana yang terverifikasi. Selain itu juga melibatkan tenaga dan relawan bencana dibawah Dinsos seperti Pramuka Siaga Bencana dan pekerja sosial masyarakat.

“Kami tekankan melalui Tagana masuk sekolah dan Tagana masuk sekolah. Kami sadarkan betul jika terjadi bencana yang punya dampak berati adalah lansia, anak-anak dan disabilitas. Makanya mereka prioritas ditolong dulu,” papar Agus.

Selain itu Dinsos juga menyiapkan logistik dan perlindungan jika terjadi bencana. Dia menjelaskan, logistik yang disiapkan adalah pangan dan kebutuhan dasar seperti pakaian dalam dan pembalut. Untuk kebutuhan pangan khusus susu bayi dan balita bekerja sama dengan Dinas Kesehatan karena perlu pengawasan khusus.

“Cadangan pangan untuk tiga hari. Seberapa besarnya, kami perlu siapkan. Jika kekurangan provinsi siap mendukung. Dari tes kemarin, kami minta pagi, sore biasanya terkirim,” tambahnya.

Sebelumnya Ketua Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Hari Wahyudi mengatakan potensi bencana saat musim hujan adalah luapan air sungai, genangan, angin kencang dan tanah longsor. Dia mengajak masyarakat untuk mengamati lingkungan sekitar. Misalnya jika ada retakan tanah yang terus berkembang luasannya. Kampung Tangguh Bencana (KTB) diminta untuk mendeteksi lingkungan yang berpotensi memicu bencana.

“Misalnya ada retakan tanah satu centimeter menjadi dua centimeter, harus segera dilaporkan. Karena apa retakannya. Bisa dilaporkan ke kelurahan, kecamatan atau melalui aplikasi Jogja Smart Service,” tambah Hari.

Menurutnya hampir semua bantaran sungai di Kota Yogyakarta rawan longsor, sehingga masyarakat sekitar harus waspada. BPBD Kota Yogyakarta mencatat, talut longsor di Sungai Winongo wilayah Serangan Ngampilan saat hujan pekan lalu. Dampaknya akses jalan ke rumah warga terganggu, sebagian warga mengungsi ke rumah saudara saat longsor. (Tri)

Read previous post:
KTR MALIOBORO BERLAKU MULAI MARET-Tempat Khusus Merokok Diperbanyak

UMBULHARJO (HARIAN MERAPI) - Pencanangan Malioboro sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) direncanakan dimulai pada triwulan pertama 2020 atau akhir Maret.

Close