Binome Tampilkan Kolaborasi Teater dan Sains

SIAPA mengira sains dapat ditampilkan dalam bentuk teater? Teater rasa sains. Meski demikian tak membuat teater menjadi kaku seperti mengantarkan ilmu sains. Kolaborasi materi terkait sains ditampilkan dalam cerita teater. Menikmati seni sembari menambah pengetahuan sains. Hal itu ditunjukkan dalam pertunjukkan kolaborasi seni teater dan ilmu pengetahuan berjudul ‘Souris Chaos’ yang berarti tikus kekacauan.

Pentas binome yang merupakan kerja sama Taman Pintar Yogyakarta dengan IFI (Institut Français Indonesia itu diadakan di Gedung Science Theater Taman Pintar pada Selasa (5/11). Kolaborasi seni teater dan ilmu pengetahuan di Perancis dikenal dengan Binôme yang berarti ‘pasangan’ yaitu penggabungan seni teater dengan ilmu pengetahuan.

Pertunjukan berjudul ‘Souris Chaos’ yang berarti ‘tikus kekacauan’ ini menggunakan tiga karakter dari kelompok teater Prancis ‘Les Sens desMots’ dengan bahasa Inggris sebagai pengantar. ‘Souris Chaos’menceritakan tentang masyarakat yang konsumtif dan kekacauan dari kecanduan.

“Pertunjukan binôme sejalan dengan misi Taman Pintar untuk menyebarluaskan sains dengan cara yang menyenangkan. Masyarakat bisa memperoleh cara baru untuk mempelajari sains,” papar Kepala Bidang Taman Pintar Afia Rosdiana, kemarin.

Dia menuturkan Binôme adalah proyek teater hasil pemikiran Thibault Rossigneux selaku direktur kelompok teater Prancis ‘Les Sens des Mots’. Binôme meneliti sains dengan cara yang berbeda dengan yang diajarkan di sekolah dan menjadikannya sebuah sumber inspirasi bagi teater kontemporer. Binôme sudah diperkenalkan ke berbagai negara sejak tahun 2012.

“Pertunjukan ini memiliki tujuan pendidikan yang penting karena dapat dilihat sebagai mediasi dan komunikasi alat non-didaktik. Penggabungan sains dengan seni merupakan cara unik untuk mempelajari sains. Mentranskrip hasil pemikiran para ilmuwan ke dalam naskah seni yang ditampilkan dalam pertunjukan, merupakan hal yang sulit,” urainya.

Rangkaian pertunjukan meliputi pembacaan puisi, drama, sains show dan live cooking.

Empat rangkaian pertunjukan memungkinkan penonton agar merasa menjadi bagian dari pertunjukan. Pertunjukan untuk penonton yang berusia diatas 12 tahun. Dua SMA di DIY terpilih memiliki kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan ini.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sains tidak hanya berhubungan dengan ilmu pasti. Tetapi juga bisa dikembangkan dan disejajarkan dengan perkembangan zaman melalui seni yang disesuaikan dengan ketentuan ilmu pengetahuan,” ucap Afi. (Tri)

Read previous post:
Pendopo Ndalem Ageng Notoyudan Keropos, Direhabilitasi Tahun Depan

UMBULHARJO (HARIAN MERAPI) - Bangunan Cagar Budaya (BCB) di Kota Yogyakarta sebagian besar kondisinya sudah rusak. Untuk menanganinya rehabilitasi dilakukan

Close