Pasar Beringharjo Bebas Uang Lusuh

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Program Pasar Kawasan Bebas Uang Lusuh (Pakabul) diinisiasi Bank Indonesia (BI) Kantor perwakilan Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta digelar sejak 22 Mei lalu. Sebanyak 22 orang agen pemburu uang lusuh (APUL) berhasil mengumpulkan Rp 30 juta-Rp 100 juta perhari dari pedagang Beringharjo.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Hilman Tisnawan mengatakan, antusiasme pedagang pasar dalam menukarkan uang lusuh mendorong adanya peningkatan soil level atau tingkat kualitas kelayaan uang.

“Uang pecahan kecil yang semula di level 6 meningkat signifikan menjadi 9 (skala 1-16), dan uang pecahan besar meningkat dari level 7 menjadi 10. Skala 1 merupakan kelusuhan paling tinggi dan skala 16 merupakan hasil cetak sempurna,” jelasnya, Rabu (18/9).

Kesuksesan program Pakabul tidak lepas dari sosialisasi dan edukasi BI kepada masyarakat untuk mencintai rupiah, dengan dilakukan terkait gerakan 5 jangan dalam merawat rupiah yaitu jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distapler, jangan diremas dan jangan dibasahi.

Pakabul sendiri merupakan pilot project BI DIY, Pemerintah kota Yogyakarta dan perbankan dalam membentuk APUL yang berkeliling di Pasar beringharjo setiap hari Senin-Jumat. Diharapkan pedagang menyimpan uang lusuh hasil transaksi jual beli dan ditukarkan pada petugas APUL yang sedang berkeliling.

“Melihat Keberhasilan program Pakabul, kami akan memperluas cakupan program di seluruh wilayah Yogyakarta, diharapkan luasnya cakupan membuat kualitas uang beredar dapat mencapai skala yang optimal,” imbuh Hilman. (C-4)

Read previous post:
Kementan Percepat Realisasi Program Asuransi Pertanian di NTB

LOMBOK (HARIAN MERAPI)- Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat realisasi asuransi pertanian di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sampai saat ini, realisasi

Close