Menelusuri Sejarah Perkutut

MEMELIHARA maupun menangkarkan burung berkutut, tak hanya sekadar untuk hiburan, prestise maupun mendapatkan tambahan rezeki lewat perkutut. Namun dianggap juga sebagai bagian dari melestarikan nilai-nilai adiluhung dari karena dari berbagai sumber, perkutut itu menjadi hewan peliharaan sejak zaman kerajaan di Indonesia masih ada.

Seperti penggemar dan penangkar perkutut asal Kampung Suringjuritan Pakualaman Yogya, Sugiyono (A Giong). Dia tak hanya memelihara perkutut, tapi juga tekun menelusuri sejarah dan kisah legenda burung tersebut. Dengan menelusuri sejarahnya menjadi penyemangat baginya dalam memelihara ataupun menangkarkan perkutut.

“Dengan memelihara perkutut secara baik serta benar termasuk bagian dari nguri-uri nilai adiluhung karena banyak sejarah atau legenda yang menyebutkan perkutut sudah banyak dipelihara sejak masa kejayaan beberapa kerajaan yang ada di Indonesia ,” kata Sugiyono kepada Merapi, baru-baru ini.

Dia menjelaskan beberapa versi legenda atau sejarah perkutut bahkan sudah ditulis di berbagai media, seperti media internet bahkan buku. Dia sendiri mempunyai versi tersendiri setelah mempelajari berbagai sumber tersebut.

Dia menuturkan legenda perkutut diawali dari masa kejayaan Kraton Pajajaran dengan rajanya, Prabu Siliwangi. Raja ini memiliki putra bernama Mortaeng Sari, suatu saat merantau ke timur yaitu ke Kraton Majapahit. Hanya saja beliau menyamar atau mengubah dirinya menjadi seekor perkutut lalu menyusup di taman Kerajaan Majapahit. Konon ceritanya, yang tahu jika perkutut itu jelmaan seorang Pangeran hanya putri dari Prabu Brawijaya (Raja Majapahit).

Pendek cerita Sang Pangeran kalau pagi hingga sore menjelma menjadi perkutut dan malam hari menjadi wujud yang sesungguhnya, yakni Pangeran asal Kerajaan Pajajaran. Namun suatu saat perkutut yang telah diberi nama Joko Mangu tersebut terbang jauh dan tak kembali. Sang Putri menjadi gelisah dan memohon pada Ayahandanya (Prabu Brawijaya) untuk mencari dan menangkapnya kembali.

“Prabu Brawijaya lalu menyamar sebagai rakyat biasa dan mencari Joko Mangu sampai wilayah Pantai Selatan,” sambung Sugiyono.

Dalam pengembaraannya, Prabu Brawijaya mendengar suara perkutut khas Joko Mangu. Yang menangkap dan memelihara, tak lain Ki Ageng Paker. Sehingga tempat tersebut sampai saat ini dikenal sebagai Desa Paker. Singkat cerita, perkutut bisa diberikan kepada Prabu Brawijaya yang menyamar rakyat biasa, lalu memberikan waluh kepada Ki Ageng Paker. Waluh ini dibawa ke tempat kakak perempuan Ki Ageng Paker agar dikupas dan disayur.

Namun alangkah terkejutnya, setelah dibuka isi waluh adalah raja brana berupa emas berlian. Tempat kakak Ki Ageng Paker tak lain berada di kawasan yang sekarang dikenal dengan nama Kotagede. Dikenal sebagai daerah banyak ditemukan pengrajin dan pelaku jual beli emas, perak, berlian. Penggemar perkutut dan jenis burung anggungan lain seperti derkuku dan puter juga mudah ditemukan di Kotagede.

“Artinya jika mempunyai perkutut kualitas bagus dapat dihargai maupun dibarter dengan perak, emas sampai berlian,” imbuhnya. (Yan)

Read previous post:
Melia Purosani Hotel Berbagi Daging Kurban

YOGYA (HARIAN MERAPI) - Melia Purosani Hotel memberikan hewan kurban berupa satu ekor sapi dan satu ekor kambing pada perayaan

Close