Angkat Dramatic Reading Lewat TKW Korban Ketidakadilan

Pertunjukkan dramatical reading bertajuk Gogrok ditampilkan usai diskusi pemanggungan sastra. (MERAPI-TRI DARMIYATI)

LASTRI menangis sembari memanggil ibunya dan suaminya. Meratapi nasibnya sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab yang harus dihukum mati.

Ya Lastri dianggap bersalah sepenuhnya atas kematian majikannya yang mencoba memperkosa dirinya. Perempuan asal Jawa itu hanya bisa pasrah atas ketidakadilan yang di terima.

“Ibu…ibu.. ibu…” kata Lastri di antara tangisnya tak berdaya di dalam penjara.

Sebelum menjadi TKW, Lastri semula bekerja sebagai buruh cuci untuk menghidupi keluarganya karena suaminya yang berprofesi seni peran atau tukang sandiwara tak mampu memenuhi kebutuhan. Dia ingin mengubah nasibnya dengan menjadi TKW. Lantaran hanya lulusan SMP, dia nekat mendaftar TKW melalui jalur ilegal.

Namun naas majikan Lastri di Arab akan memperkosanya. Dia pun berusaha melawan agar dirinya tidak menjadi korban kebiadaban majikannya. Di tengah pembelaannya majikannya tewas. Dia pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

“Para hakim muk mbelani wong berduit,” teriak Lastri dalam kemarahannya dalam membaca naskah drama.

Demikian penggalan pertunjukan dramatical reading berjudul ‘Gogrok’ karya karya Indra Tranggono yang ditampilkan di Pendopo Siliran Selasa (20/3) malam. Pertunjukkan yang dimainkan oleh Teater Muara itu sedikit berbeda dengan pentas drama lainnya.

Pada pertunjukkan teater umumnya pemain tanpa naskah dan dengan konstum lengkap. Sedangkan pada pertunjukkan Gogrok itu para pemain membaca naskah drama yang dipegang masing-masing. Tapi bukan sekadar membaca naskah. Para pemain mendalami pembacaan drama itu sesuai karakter dan ekspresi sesuai naskah.

Sebelum pertunjukan, diadakan diskusi pemanggungan sastra dengan narasumber Hamdy Salad penyair dan dramawan yang aktif mengamati dan menulis persoalan pemanggungan sastra. Selain itu Indra Tranggono pengamat budaya sekaligus pengagas acara dan dimoderatori Khocil Birawa, jurnalis dan teaterawan.

Dalam diskusi kemarin, menurut Hamdy pemanggungan sastra kini sudah menjadi fenomena, walapun belum ada buku-buku referensi tentang pemanggungan sastra yang lengkap. Semula pemanggungan sastra lewat sosialisasi karya sastra sebagai pijakan musikalisasi puisi. Dari pencermatannya selama 5 tahun ini cara itu sudah tidak menjadi pijakan karena berkembangmenjadi penciptaan-penciptaan karya sastra.

“Dramatic reading ini bagian darai model pertunjukan sastra. Naskah drama ditafsirkan dalam bentuk suara. Praktik pertunjukan sastra masuk dalam transformasi alih wahana dari karya sastra diubah menjadi seni pertunjukkan,” terang Hamdy.

Sedangakan Pengagas acara Indra Tranggono mengatakan pemanggungan sastra sudah terjadi sangat lama. Namun feneomena tersebut dinilainya belum diakomodir pada pembelajaran di perguruan tinggi. Selain itu melalui kegiatan yang merupakan rangkaian dari program Festival Godhong Opo-opo Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta juga untuk mengeratkan hubungan para seniman setempat.

“Ini juga penting untuk relasi keseniman di Yogya yang agak melonggar. Ciri Yogya harus komunal dan guyub,” imbuh Indra.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Eko Suryo Maharsono menyampaikan kegiatan itu digagas karena banyak karya literasi sastra kuno di kantornya yang menumpuk. Kegiatan itu bagian dari Festival Godhong Opo-opo yang menampung seluruh kesenian dan kebudayaan.

“Banyak manuskrip literasi numpuk di kantor. Apapun yang kuno-kuno tidak ada manfaatnya jika tidak dibicarakan. Acara ini agar karya sastra berbicara,” ujar Eko. (Tri)


Pin It on Pinterest

Read previous post:
Tim Pengawasan Orang Asing Kecamatan se-Kulonprogo Dibentuk

WATES (MERAPI) - Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Kantor Wilayah DIY mengukuhkan Tim Pengawasan Orang Asing (Tim Pora) tingkat kecamatan

Close