Jogjavaganza 2019: Jogja Ada Sepeda

Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta memberikan keterangan mengenai kegiatan Jogjavaganza untuk menarik wisatawan pada masa low season. (MERAPI-TRI DARMIYATI) 

KOTA Yogyakarta sebagai kota wisata tidak berati setiap saat ramai dengan wisatawan. Ada masa-masa di mana wisatawan mencapai titik terendah atau masa low season. Untuk menarik wisatawan pada masa itu kegiatan yang mempertemukan para pelaku wisata Jogjavaganza akan diadakan pada 12-16 Februari 2019. Pada tahun ini wisata yang diangkat adalah Jogja Ada Sepeda untuk menikmati suasana baru Kota Yogyakarta dengan sepeda.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dinpar) Kota Yogyakarta Yetti Martanti menuturkan sepeda dipilih untuk mengajak para pelaku wisata yakni agen perjalanan menikmati suasana Yogyakarta di beberapa tittik wisata yang telah ditata. Misalnya pedestrian Suroto Kotabaru, Margo Utomo dan Malioboro.

“Destinasi yang diunggulkan dari sisi menikmati suasana Yogyakarta dengan sepeda dan berhenti di tempat-tempat yang bisa untuk spot foto selfie. Ini juga untuk mengenalkan perubahan di Kota Yogyakarta setelah ditata,” papar Yetti, dalam jumpa pers di Balaikota, Kamis (8/2.

Pihaknya sengaja mengonsep kombinasi wisata dengan sepeda dan spot-spot foto karena selfie masih menjadi tren. Konsepi itu dinilai bisa menarik para agen perjalanan merasakan pengalaman dan mengajak wisatawan berkunjung. Jogja Ada Sepeda akan dilaksanakan pada 13 Februari 2019.

Sejumlah objek wisata lainnya juga dikenalkan seperti Pasar Ngasem, Alun-alun Kidul dengan kegiatan masangin, dan pusat wisata kuliner gudeg. Termasuk pengenalan wisata belanja yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat seperti kawasan Kotagede.

“Jadi mengenalkan ke wisatawan kalau ke Yogyakarta oleh-olehnya tidak hanya itu-itu saja. Tapi ada tempat lain yang memiliki produk oleh-oleh lain. Misalnya di Kotagede ada kerajinan perak dan coklat,” tutur Yetti.

Dalam kegiatan Jogjavaganza, selain mengunjungi tempat-tempa wisata, inti kegiatan adalah mempertemukan para pelaku wisata seperti agen perjalanan, hotel, restoran dan pelaku pusat oleh-oleh sebanyak 100 pelaku. Ada sekitar 130 agen perjalanan yang diundang dalam Jogjavaganza untu melakukan table top dan business to business antara pelaku wisata sebagai penjual dengan agen wisata agar membawa wisatawan.

“Para pelaku agen wisata dari seluruh Indonesia yang diundang ini biasanya membawa wisata domestic ke Yogyakarta,” ujarnya.

Pelaku hotel yang dilibatkan adalah hotel bintang, 1,2 ,3 dan hotel non bintang karena menyasar pasar wisata domestik. Menurutnya dari kegiatan Jogjavagansa tahun 2018 dinilai efektif untuk menarik wisatawan saat masa low season. Dia mengklim kegiatan itu mendapat antusiasme cukup tinggi. Dari transaksi satu hotel bisa langsung dapat konseum untuk 1-2 grup wisatawan. Di samping itu ada kegiatan Mocktail Competition.

“Herapannya ini juga bisa menambah masa lama tinggal wisatawn di Kota Yogyakarta. Saat ini lama tinggal baru 2,1 hari,” tambah Yetti

Sedangkan Ketua Jogjavaganza Edwin Ismedi Himna memperkirakan tahun 2019 ini ada peningkatan wisatawan ke Yogyakarta berkisar 30-40 persen. Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta mencatat jumlah wisatawan selama tahun 2018 ada 4 juta wisatawan ke Yogyakarta dan 400 wisatawan di antaranya dalah wisatawan mancanegera.

“Kami optimis wisatawan meningkat di angka itu karena akan ada bandara baru, perjalanan kereta api semakin mudah. Untuk wisatawan domestik yang ke Yogyakarta selama ini kebanyakan masih dari Jawa seperti Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat. Luar Jawa seperti Makasar cukup bagus karena penerbangan langsung dai daerah lain belum ada,” pungkas Edwin yang juga pengurus Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) setempat. (Tri)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Bank Sleman Buka Cabang di Kalasan

KALASAN (MERAPI) - Perusahaan Daerah (PD) BPR Bank Sleman kembali membuka kantor cabang bertempat di Jalan Solo Km 15 Tamanmartani,

Close