Senangnya Berkunjung ke Monumen Rumah Sandi

Siswa, wali murid dan guru TK Mekar Al-Islam foto bersama di halaman Monumen Rumah Sandi. (MERAPI-SULISTYANTO)
Siswa, wali murid dan guru TK Mekar Al-Islam foto bersama di halaman Monumen Rumah Sandi. (MERAPI-SULISTYANTO)

PAGI nan cerah dan udara segar dapat dirasakan di kawasan Dukuh Purwoharjo Samigaluh Kulonprogo. Suasana ini pun dapat dirasakan di kompleks Monumen Rumah Sandi yang berada di padukuhan setempat. Apalagi aneka tanaman bisa tumbuh subur dan tertata rapi di kompleks Rumah Sandi.

Wajar saja ketika rombongan siswa TK Mekar Al-Islam bersama wali murid dan guru TK setempat merasa betah berada di kawasan tersebut, Jumat (12/10). Masih ditambah lagi, tak jauh dari halaman Monumen Rumah Sandi juga ada sejumlah gazebo serta mainan anak, seperti ayunan, <I>prosotan<P> serta jungkat-jungkit. Semua yang berkunjung ke Rumah Sandi pun bisa merasa senang.

“Dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi ke-67 Kulonprogo, kami mempunyai beberapa kegiatan, antara lain pengumpulan dana untuk korban gempa dan tsunami di Palu-Donggala. Sekarang ini jalan-jalan sampai di Monumen Rumah Sandi dan ada lomba mewarnai,” papar Kepala Sekolah TK Mekar Al-Islam, H Sihono SPd.

Menurut Sihono, setiap Jumat pihaknya rutin mengajak siswa jalan-jalan atau belajar di luar kelas. Antara lain pengenalan alam sekitar seperti aneka jenis tanaman serta satwa. Bahkan berbagai profesi di masyarakat, misalnya pedagang, pemilik warung, toko, petani, bengkel dan sebagainya. Saat berada di Monumen Rumah Sandi, bahkan dapat mengenalkan sejarah perjuangan para pahlawan.

“Beberapa benda jaman dulu seperti <I>lumpang-alu<P> untuk menumbuk padi, <I>amben<P> tempat tidur terbuat dari bambu dan beberapa bagian rumah seperti <I>senthong<P> juga dapat kami kenalkan,” urainya.

Sebagai pemandu dalam kesempatan tersebut, yakni Ngadiman dan Nina Fitriyanti. Saat anak-anak berkumpul, Ngadiman antara lain menjelaskan, Monumen Rumah Sandi dulunya bangunan rumah yang dijadikan tempat komunikasi persandian dalam masa perang gerilya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia saat terjadi agresi militer Belanda II pada 1948.

Dari tempat inilah komunikasi perjuangan dari Markas Besar Komando Djawa yang berada di dapat direlay melalui pemancar radio dan dapat diterima sampai ke Jakarta, Sumatra, New Delhi dan beberapa tempat penting lain. Dalam perkembangannya, rumah asli telah dipugar bahkan rumah maupun tanahnya telah dibeli Lembaga Sandi Negara.
“Meski sudah dipugar, namun tetap mempertahankan keaslian bentuk, corak dan luasan serta tinggi dari masing masing ruang. Peresmian setelah proses pemugaran dilakukan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, 29 Januari 2014,” papar Ngadiman.

Menurut Nina, sebelum dijadikan sebagai Monumen Rumah Sandi, tanah dan rumah tersebut milik kakek buyutnya. Dalam perjalanannya dibeli Lembaga Sandi Negara yang juga mengelola Museum Sandi Negara di Kotabaru Yogya. Ketika tak ada tamu/rombongan ke Rumah Sandi, ia pun menjadi staf di perpustakaan Museum Sandi Negara. (Yan)

 

Read previous post:
Biasa Berbohong

IBARAT sudah terlanjur basah, maka Jumanto semakin berani dalam upayanya mendekati Tinuk. Sudah mantap Jumanto ingin menjadikan janda kembang itu

Close