Pemain PSS Selalu Jaga Kekompakan

SLEMAN (MERAPI)- Latihan mandiri jadi satu-satunya upaya menjaga kebugaran fisik pemain di tengah pandemi. Namun ada yang hilang ketika melahap program yang diberikan pelatih di rumah masing-masing. Salah satunya hilangnya momen saling mengenali kekuatan dan kelemahan antarindividu yang berguna untuk menaikkan kerjasama tim.

Pelatih PSS, Dejan Antonic membenarkan bahwa kerjasama tim adalah elemen penting dalam sebuah tim. Apalagi taktiknya membutuhkan kolektivitas tinggi dari pemain yang diturunkan. Latihan mandiri memangkas kesempatan penggawa Laskar Sembada untuk menguatkan kerjasama yang selalu hadir dalam latihan. Namun pelatih asal Serbia itu merasa sangat senang ketika tahu para pemainnya terus menjaga komunikasi selama liga disetop.

“Komunikasi bagus sekali, jalan terus. Tidak hanya bicara program saja dan bagi saya itu bagus sekali, pemain saling menguatkan. Tim ini benar-benar diisi pemain yang tidak hanya bagus di atas lapangan,” puji Dejan.

Bagus Nirwanto dan kawan-kawan tampaknya tahu betul bagaimana mengakali hilangnya momen itu dengan terus menjaga komunikasi antarpemain. Mereka menyasar kedekatan antarpemain untuk memperkuat fondasi kerjasama tim selama latihan mandiri di rumah masing-masing. “Kami sering panggilan video, sekadar menanyakan kabar atau bercanda. Penting sekali menjaga kedekatan ini, kalau waktunya tiba tinggal memoles taktik,” kata winger Jefri Kurniawan.

Irkham Milla mengamini kompatriotnya. Milla menilai intensitas komunikasi bisa mendekatkan para pemain di tengah kesibukan mereka saat berada di rumah. Obrolan dalam panggilan video variatif, dari membahas sepakbola sampai aktivitas masing-masing. “Seru saja saat bertemu mereka, bikin kangen main bersama lagi,” sambung Milla.

Kedekatan antarpemain ini sangat penting bagi PSS saat ini karena setengah skuad diisi penggawa anyar. Hanya Ega Rizky, Wahyu Sukarta, Asyraq Gufron, Bagus Nirwanto, Derry Rachman, Wahyu Sukarta, Jefri Kurniawan, Batata, Milla, Yevhen Bokhasvili, dan Arsyad Yusgiantoro pemain musim lalu. Sementara sisanya adalah penggawa anyar PSS yang hanya punya kesempatan satu bulan latihan plus tiga pertandingan bermain bersama. “Baru tiga pertandingan tapi mereka mengalami kenaikan performa,” respon Dejan mengomentari waktu singkat mempersiapkan tim usai menerima tongkat estafet dari Eduardo Perez Moran beberapa hari sebelum liga digelar.

Harapan untuk berkumpul kembali dengan rekan-rekan satu tim mengecil setelah pemerintah tidak mencabut status bencana sosial yang batas waktunya berakhir Jumat (29/5) kemarin. Dugaan kompetisi disetop langsung menguat ketika PT LIB memajukan rapat virtual mendadak dengan manajemen Liga 2 yang seharusnya digelar 2 Juni usai tidak dicabutnya status. Setelah pertemuan itu, PSSI juga akan menindaklanjutinya dengan rapat Exco. “Nasib kompetisi tidak digelar dalam pertemuan PT LIB, kejelasan status ada di rapat Exco PSSI,” tegas Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Yunus Nusi Jumat (29/5) kemarin. (Des)

Read previous post:
SEBAGIAN SUDAH MENINGGAL DAN MAMPU SECARA EKONOMI -Bansos untuk 129 Warga di Sumbermulyo Salah Sasaran

Close