Para Maniak Kekerasan (Refleksi Tewasnya Suporter Bola di SSA Bantul)

SUDAH sepekan berlalu, namun tragedi tewasnya penonton sepakbola Muhammad Iqbal Setiawan masih bikin miris. Rasa duka mendalam juga sangat mungkin masih dirasakan oleh keluarga almarhum menyusul kepergian mendadak pelajar SMK asal Balong Timbulharjo Sewon Bantul itu.

Selain miris, insiden keributan suporter dalam pertandingan PSIM Yogya vs PSS Sleman di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul itu juga masih membuat kita tak habis pikir. Entah bagaimana jalan pikiran segerombolan oknum suporter itu, hingga mereka men-sweeping kartu identitas penonton tanpa atribut, lalu tanpa alasan jelas mereka keroyok semaunya. Konyol.

Kejadiannya mirip saat ricuh Persija Jakarta vs Persib Bandung di Gelora Bung Karno, Mei 2012. Kala itu panpel tuan rumah tidak menerima kedatangan suporter Persib. Usai pertandingan sebagian suporter Jak Mania melakukan sweeping. Alm Rangga Cipta Nugraha yang menonton tanpa atribut, dikeroyok ramai-ramai hingga kepalanya retak, setelah diketahui punya KTP Bandung. Tak disangka-sangka, tindakan tidak waras-tak pikir panjang dan kurang kerjaan itu, terjadi di sini.

Tidak layak tersangka pengeroyok Iqbal yang kini sebagian sudah diamankan polisi ini disebut suporter sepakbola. Lebih cocok mereka ini disebut sebagai penggila kekerasan yang berkedok sebagai suporter. Sudah sepantasnya pula jika polisi mengusut dan menangkapi para maniak itu. Serangkaian proses hukum dan ancaman penjara kini menanti mereka. Penyesalan pun sudah tak ada guna.

Kericuhan, apalagi yang menelan korban jiwa seperti ini, selalu menjadi tragedi yang berujung air mata dan tak ada untungnya. Masa depan korban terrenggut dan keluarganya diliputi rasa duka mendalam, sedang masa depan tersangkanya pun jadi suram dan keluarganya bakal kalang kabut. PSIM sendiri juga terkena imbasnya, karena izin untuk bermain di SSA menjadi tidak terbit.

Iqbal pun menambah deretan korban atas nama fanatisme sepakbola yang tewas di wilayah Yogyakarta. Sebelumnya ada nama M Nurul Huda, pemuda 16 tahun warga warga Kuncen Wirobrajan Yogyakarta, yang juga tewas pada Maret 2012, karena ricuh tak jelas sesama pendukung PSIM. Lalu ada nama Jupita yang kehilangan nyawa setelah menjadi korban kerusuhan dua kelompok suporter Persiba Bantul usai bertanding melawan Persiram Raja Ampat pada 8 Februari 2014. Setelah itu, ada nama Muhammad Ikhwanudin, mahasiswa UIN Yogya berusia 19 tahun, menghembuskan nafas terakhir usai bus yang ditumpangi puluhan suporter PSCS Cilacap diserang secara brutal di Jalan Solo pada 12 Oktober 2014.

Ribut-ribut suporter bola, bahkan sampai menghilangkan nyawa, sudah tidak bisa ditolerir. Bahkan kali ini, Ngarso Dalem Sri Sultan HB X juga sampai turut menyampaikan keprihatiannya. “Kita semua ini malu. Kita sesama warga masyarakat DIY kenapa kalau ada pertandingan bola ricuh, kalau tidak ada tidak ricuh,” kata Sultan usai mengikuti kegiatan orasi kebangsaan bertemakan Jogja Gumregah Untuk Indonesia, beberapa waktu lalu.

Bagi para maniak kekerasan yang berkedok suporter di luar sana, ada baiknya mencermati kembali pernyataan dalam akun media sosial resmi PSIM beberapa waktu lalu. “Tidak ada kemenangan yang pantas dibayar dengan nyawa. Ingat kawan, renungkan, ini hanya sepakbola.”  (Nurrohman, Redaktur Olahraga SKH Koran Merapi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
SELAMATKAN DATA DAN SEJARAH – Dispusip Bantul Restorasi Lebih 1000 Arsip Penting

BANTUL (MERAPI) - Keberadaan arsip atau dokumen penting seringkali tidak diperhatikan oleh masyarakat. Padahal arsip berfungsi sebagai dokumen berisi data-data

Close