Regulasi Tidak Jelas, Sulitkan Klub

Regulasi Tidak Jelas, Sulitkan Klub Belum adanya aturan baku jangka panjang dalam persepakbolaan di Indonesia membuat beberapa klub yang ragu untuk melangkah lebih jauh. Ketua Umum PSSI pusat memang sudah berganti namun carut marut sepakbola nasional masih belum bisa diurai secara tuntas.

Kasus peserta play off Liga 2 Indonesia antara PSBK Blitar dan Persewangi Banyuwangi menjadi salah satu contoh amburadulnya PSSI dan PT LIB. Belum lagi babak perempatfinal yang sempat mundur waktunya tanpa ada kepastian.

Menghadapi musim baru tahun 2018 pun PSSI belum mengumumkan regulasi terutama untuk Liga 2 dan Liga 3. PSSI tampaknya terbiasa dengan hal-hal yang mendadak. Hal ini tentu menyulitkan bagi peserta kompetisi. Mau melangkah terlalu jauh, jangan-jangan nanti regulasinya berubah drastis seperti saat musim 2017. Beberapa klub saat itu sudah menyiapkan tim dengan komposisi pemain terbaik namun tiba-tiba PSSI atau PT LIB mengeluarkan regulasi tentang pembatasan usia pemain. Pembatasan usia memang bagus untuk ke depannya namun aturan yang terbilang mendadak membuat banyak klub yang harus merombak tim menjelang kompetisi.

Mungkin ini yang membuat dua klub di DIY, PSIM Yogya dan Persiba Bantul masih santai-santai saja dan belum bergerak untuk membentuk tim yang akan terjun pada kompetisi musim mendatang. Langkah yang agak lebih maju dilakukan PSS Sleman. Meski belum membentuk tim secara penuh namun Laskar Sembada sudah merekrut pelatih.
PSS bergerak lebih awal karena memang targetnya promosi ke Liga 1 Indonesia. Musim lalu Busari dkk gagal promosi setelah terhenti di babak 16 besar. Nyaris mulus di babak penyisihan sempat membuat was-was klub lain. Namun di babak 16 besar, Laskar Sembada gagal karena penampilannya tidak konsisten.

Kegagalan promosi ke Liga 1 membuat suporter meradang karena di awal kompetisi, PSS memasang target lolos ke Liga 1. Seluruh anggota tim yakin bisa promosi pasalnya pada turnamen sebelumnya yakni ISC B, PSS menjadi runner up.

Maka musim depan tuntutan suporter yang harus dipenuhi adalah promosi ke kasta tertinggi sepakbola nasional. Namun persiapan pembentukan tim PSS untuk musim depan sedikit terkendala dengan hengkangnya beberapa pemain pilar yang musim lalu menjadi pemain inti di PSS. Tapi manajemen tidak mempermasalahkan hal tersebut dan yakin bisa membentuk tim yang kuat dan solid untuk mengarungi Kompetisi Liga 2 musim 2018. Manajemen juga yakin bisa promosi sesuai tuntutan suporter.

Sedang salah satu kendala yang membuat PSIM belum membentuk tim adalah masalah finansial. Faktor dana menjadi persoalan yang berlarut-larut di Laskar Mataram. Bahkan sebagian bonus musim lalu belum terbayarkan hingga kini.
Telat gaji seolah menjadi tradisi PSIM dalam beberapa musim terakhir. Untunglah banyak pemain yang loyal sehingga Laskar Mataram tetap bertahan dan tidak terdegradasi. Namun hal ini tidak boleh lagi terjadi karena bagaimana pun hak pemain harus didahulukan seiring perjuangan mereka di lapangan.

Kendala masalah dana ini harus bisa diatasi sehingga musim depan tak ada lagi kabar pembayaran gaji yang telat. Menurut beberapa pemain suasana di PSIM lebih guyub namun bila pengelolaan masih tak berubah ada kemungkinan banyak pemain yang memilih pindah ke klub lain.

Jika masih seperti sekarang ini maka tak usah menargetkan promosi ke Liga 1, bertahan saja sudah cukup. Benahi dulu manajemen jika ingin main di kasta teratas.

Sementara untuk Persiba Bantul hingga kini masih adem ayem saja. Wajar. Terdegradasi ke Liga 3 membuat Laskar Sultan Agung agak sulit untuk ‘dijual’ ke sponsor. Apalagi hingga kini belum ada kepastian format Liga 3.

Ada wacana Liga 3 diisi oleh tim-tim yang terdegradasi dari Liga 2 ditambah tim promosi dari Liga 3 musim lalu.

Sedangkan sisanya atau yang bertahan di Liga 3 musim lalu, musim depan ditempatkan di Liga 4. Tapi ada juga wacana lain yakni tim-tim yang terdegradasi dari Liga 2 langsung main di putaran nasional bersama tim promosi sedang sisa tim Liga 3 musim lalu harus merangkak dari bawah lagi.

Tragis memang bagi Persiba, pernah mencicipi liga teratas yang Indonesia Super League (ISL) kini harus terlempar ke Liga 3 yang notabene adalah kompetisi amatir. Sekarang tinggal bagaimana stakeholders sepakbola di Bantul. Mau dibawa kemana Persiba? Kalau ingin fight dan kembali ke liga profesional maka harus diserahkan ke orang yang ‘gila bola’. Jika tidak ya nama Bantul di kancah sepakbola nasional akan tenggelam lagi seperti beberapa tahun lalu. (Husein Effendi)


Pin It on Pinterest

Read previous post:
Malam Tahun Baru di Pati, Disiagakan Tim Pengurai
Malam Tahun Baru di Pati, Disiagakan Tim Pengurai

PATI ( MERAPI ) - Guna mengamankan perayaan malam pergantian tahun baru 2018, Polres Pati menyiapkan 775 anggota, serta tambahan

Close