Tiga Orang Meninggal, Kasus DBD di Sukoharjo Terus Meningkat

SUKOHARJO (MERAPI) – Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya di Sukoharjo mengalami peningkatan. Tiga orang meninggal dunia akibat DBD. Kondisi cuaca dan lingkungan kotor jadi pemicu utama. Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo meminta pada masyarakat menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Kepala DKK Sukoharjo Yunia Wahdiyati, Selasa (2/6) mengatakan, data terakhir diketahui hingga pekan ke-21 awal Juni ada 109 kasus DBD tersebar di 12 kecamatan. Dari jumlah tersebut sebanyak tiga orang meninggal dunia. Rinciannya, satu orang warga Kecamatan Kartasura dan dua orang warga Kecamatan Gatak. Kasus tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan awal Mei lalu hanya 68 kasus.

Peningkatan kasus DBD tersebut menjadi perhatian DKK Sukoharjo mengingat cukup menonjol. Terlebih lagi kasus DBD muncul ditengah pandemi virus corona. Karena itu petugas meminta pada masyarakat untuk selalu waspada terhadap semua kemungkinan terjangkitnya penyakit.

DKK Sukoharjo sudah menurunkan petugas lapangan melakukan penanganan terhadap warga sekaligus pemeriksaan lingkungan masyarakat. Peningkatan kasus DBD diketahui karena faktor cuaca dimana sekarang masih turun hujan. Diperkirakan sekarang juga sudah masuk peralihan musim kemarau.

Adanya genangan air hujan disejumlah tempat menyebabkan perkembangbiakan nyamuk menjadi lebih cepat. Akibatnya populasi nyamuk juga bertambah dan menyebabkan kerawanan warga terjangkit DBD.

Faktor tingginya kasus DBD juga disebabkan kondisi lingkungan kotor dan berpengaruh pada rendahnya kesehatan masyarakat. Karena itu DKK Sukoharjo meminta pada masyarakat untuk selalu menerapkan PHBS.

“Ditengah pandemi virus corona sekarang kasus DBD tinggi ada 109 kasus dengan tiga orang diantaranya meninggal dunia,” ujarnya.

DKK Sukoharjo memastikan semua fasilitas pelayanan kesehatan disemua wilayah berfungsi memberikan pelayanan pada masyarakat. Meski ditengah pandemi virus corona, namun Yunia menegaskan kasus DBD juga dilakukan penanganan maksimal.

“Kami juga menerima laporan kasus chikungunya juga tinggi. Sumbernya sama seperti DBD dari nyamuk. Karena itu masyarakat kami minta giatkan pemberantasan sarang nyamuk agar jentik tidak berkembang dan jadi sumber penyakit,” lanjutnya.

Pemantauan juga dilakukan DKK Sukoharjo dengan meminta kader kesehatan di masing masing desa dan kelurahan aktif. Penekanannya adalah menerapkan PHBS sehingga terjadi penurunan kasus DBD.

Sebaran DBD diketahui merata di 12 kecamatan dengan jumlah kasus bervariasi. Paling tinggi berada di wilayah Kecamatan Bendosari.

Langkah pencegahan peningkatan DBD sudah dilakukan DKK Sukoharjo dengan melakukan fogging atau pengasapan dibeberapa wilayah. Petugas berharap nyamuk dewasa penyebab DBD bisa mati dan menekan kasus. Disisi lain masyarakat juga diminta aktif melakukan pemberantasan jentik nyamuk sebelum muncul penyakit. (Mam)

Read previous post:
Usai Kena PHK, Warga Terdampak Corona Nekat Jadi Penjambret

Close