Permintaan Ayam Pejantan Potong Anjlok

SEBAGIAN perusahaan pembibitan ayam ras petelur, juga mengeluarkan day old chick (DOC) ayam pejantan. Ayam dengan bulu-bulu mayoritas putih ini kualitas dagingnya mendekati ayam kampung, jauh lebih padat dibanding ayam potong (broiler). Ayam itu banyak dibutuhkan pemilik usaha kuliner serta pedagang daging ayam di pasar-pasar. Namun sejak merebaknya virus Corona, pemasaran ayam pejantan mengalami kendala.

Seperti dijelaskan peternak ayam pejantan asal Sidoluhur Godean Sleman, Wahyu Susanto, saat ini di kandangnya ada 300-an ekor ayam belum terjual. Padahal umurnya sudah 70-an hari. “Pengambilan ayam siap dipotong biasanya 200 sampai 250 ekor, tapi sejak ada wabah Corona, setiap diambil kisaran 60 ekor saja,” kata Wahyu kepada Merapi, ditemui di lokasi kandangnya, Kamis (02/4).

Dia menuturkan biasa memelihara 1000 ekor ayam pejantan. Untuk penyediaan DOC maupun penjualan ayam pejantan, dia sudah kerjasama dengan pihak tertentu. bapak dari satu anak ini menjelaskan, tersendatnya pemasaran ayam pejantan termasuk suatu kendala dalam menerjuni usaha beternak ayam tersebut.

“Kami bisa memaklumi, sebab tak sedikit lokasi kuliner, termasuk penjual gudeg sampai bakmi ada yang tutup dahulu. Bahkan ada sebagian pedagang daging ayam di pasar-pasar juga libur. Kami harap ujjian wabah virus Corona, segera berakhir,” terangnya.

Hal senada disampaikan Sagimin yang masih satu dusun dengan Wahyu dan saat ini memelihara 2.500 ayam pejantan. Hanya saat ini baru berumur sekitar 25 hari, sehingga masih perlu dibesarkan lagi untuk bisa dijual sebagai ayam siap dipotong. Dia sangat berharap, saatnya ayam-ayam tersebut siap potong sudah tak ada virus Corona, sehingga pemasarannya tak tersendat.

“Hal seperti ini memang termasuk kendala dalam beternak ayam. Kendala lainnya, seperti ketika harga jual ayam rendah dan harga pakan tinggi. Tak ketinggalan, ketika ada penyakit ayam lalu bisa menular,” bebernya.

Lelaki berambut gondrong ini menyebut saat memelihara 1.500 ekor ayam pejantan pernah ada yang mati sekitar 300 ekor saat umurnya 30-an hari. Awalnya ada ayam yang seperti pilek, nafsu makan hilang serta nyekukruk. Tak disangka, penyakit ini bisa cepat menular ke ayam yang lain. Sehingga dalam setiap hari ada yang mati antara 10 sampai 25 ekor. Hal ini menjadi pengalaman tersendiri, sehingga pihaknya perlu kerja sama dengan dokter hewan.

“Setelah ada kerjasama dengan dokter hewan, kendala kematian ayam dapat ditekan seminimal mungkin,” ujarnya

Ditambahkan, pengeluaran terbesar untuk beternak ayam pejantan yakni untuk pembelian pakan buatan pabrik. Ketika memelihara 2.500 ekor ayam, membutuhkan pakan sampai 100 karung (mulai dari DOC sampai siap panen). Sedangkan saat memelihara 1.500 ekor ayam biasa membutuhkan sekitar 62 karung. Pemberian pakan dua kali dalam sehari, sedangkan penggantian air minum bisa setiap 24 jam. (Yan)

 

Read previous post:
Tiwul Aneka Rasa Disukai Anak Muda

Close