Anggota Jadi Korban Klitih, Geng Garis Keras Balas Nglitih

SLEMAN (HARIAN MERAPI) – Sebelas orang remaja diringkus tim Resmob Polres Sleman. Mereka ditangkap setelah melakukan tindak pidana pembacokan di selatan gapura Kasongan, Bantul, Sabtu (15/2). Pemicunya, salah satu anggota geng tersebut pernah menjadi korban kejahatan jalanan atau klitih.

Mereka adalah Z (18) FT (18) pelajar warga Karangjati Sinduadi Mlati, RS (20) mahasiswa, MB (18), MR (20) pelajar, DS (18) pelajar, warga Kasihan Bantul, YN (18) penjaga konter, warga Ngampilan, PI (18) Geblagan Tamantirto Kasihan,

AS (17) pelajar, warga Wirobrajan Yogya, DA (18) berstatus pelajar, warga Karangjati Sinduadi Mlati Sleman. F (22) penganguran warga Gondokusuman Yogya dan NA (20) pengangguran Ngadimulyo Wirobrajan Yogyakarta.

Wakapolres Sleman Kompol M Kasim Akbar Bantilan didampingi Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Rudy Prabowo, Minggu (16/2) membenarkan kejadian itu. Pelaku yang diamanakan berasal dari geng ‘MGK’ Ma’arif garis keras.

“Mereka ini diamanakan setelah melakukan tindak pembacokan di Bantul dengan clurit. Korbannya AM (19) mahasiswa warga Baturetno Bantul, mengalami luka pada bagian tangan kirinya,” beber Kompol Akbar.

FOTO-FOTO: MERAPI-SAMENTO SIHONO
Kompol M Kasim Akbar Bantilan (kiri) didampingi AKP Rudy Prabowo saat menunjukan barang bukti.

Terungkapnya kasus ini berawal saat RS pimpinan geng ini mengajak anak buahnya berkumpul melalui status WA. Dia mengajak balas dendam karena anak buahnya ada yang kena klitih, sehingga ingin mencari pelaku.

Setelah berkumpul, gerombolan ini dengan sepeda motor berkeliling ke Bantul untuk mencari sasaran. Saat melintas di seputaran Kasongan Bantul, pelaku bepapasan dengan korban, saat itu kedunya terjadi kontak mata dengan jarak 20 meter.

Tidak terima dengan hal itu, korban kemudian putar arah dan langsung membacok korban dengan celurit dan pedang. Usai kejadian itu pelaku lari ke utara melewati ringroad barat, korban yang terluka berusaha mengejar pelaku.

“Saat melintas di perempatan Kronggahan, anggota sedang patroli dipimpin kasat serse, melihat pelaku ini mengendarai motor secara kebut-kebutan. Mereka juga menerobos lampu merah,” katanya.

Melihat kejadian itu, dengan sigap petugas lantas melakukan pengejaran terhadap pelaku namun pelaku berhasil melarikan diri. Saat dilakukan pengejaran hingga di Pingit Yogyakarta, petugas mengamankan dua orang pelaku.

Saat dilakukan pengembangan, petugas kembali mengamankan sembilan orang berkumpul di rumah Z di Karangjati Mlati. Setelah dilakukan interograsi, para pelaku mengakui melakukan pembacokan di Jalan Bantul.

Untuk proses penyidikan, para terduga pelaku dibawa ke Polres Sleman. Saat dilakukan penyisisran, petugas berhasil menemukan celurit, dan pedang yang digunakan untuk membacok korban di Kasongan Bantul.

“Para pelaku kejahatan jalanan ini ada yang alumni dan ada juga yang masih pelajar, ada juga yang pengangguran,” katanya.

AKP Rudy menambahkan pelaku F dan RS ini dilimpahkan ke Polres Bantul karena eksekutor dan joki pembacokan. Sedangkan Z yang juga pelajar ditahan di Polres Sleman karena kepemilikan senjata tajam pedang.

“Pelaku yang lain masih sebatas saksi, kita juga masih telusuri genk lain di Bantul yang disinyalir menjadi musuh kelompok ini,” kata AKP Rudy.

Lanjut AKP Rudy, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan RS merupakan alumni sekokah tersebut. Sehingga ia mengajak teman-temannya berkumpul untuk balas dendam ke sekolah di Bantul yang sudah menjadi rivalnya. “RS ini pimpinan geng, ia mengajak kumpul anak buahnya mengajak balas dendam dengan dalih temanya ada yang kena,” tandasnya.

Atas kejadian itu petugas akan menindak tegas pelaku kejahatan jalanan yang sangat meresahkan masyarakat. Ia juga mengimbau pada orang tua yang mempunyai anak SMP dan SMA untuk selalu mengawasi saat keluar malam.

“Kita akan tindak tegas para pelaku kejahatan jalanan. Orang tua yang punya anak setingkat SMP dan SMA harus di awasi. Karena mereka keluyuran malam, bawa senjata tajam dan pengaruh minunan keras,” imbaunya.

Atas perbuatanya RS dan F dijerat dengan Pasal 351 ayat (1) dan (2) KUHP, yaitu melakukan tindak penganiayaan sehingga mengakibatkan korban menderita luka berat, dengan ancaman hukum maksimal 5 tahun penjara.

“Untuk pelaku Z dijerat Pasal 2 (ayat 1) UU Darurat No 12 th 1951 dengan ancaman 10 tahun kurungan penjara,” ujarnya. (Shn)

Read previous post:
Putri DIY Juara Kejurnas Bola Basket KU-16

TANGERANG (HARIAN MERAPI) - Tim Putri DIY sukses menjadi kampiun Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Bola Basket usai mengalahkan Jawa Barat 49-44

Close